Baca Juga: 'LOVE IN TURKEY' Episode 16, Oleh: AhliyaMujahidin
***
Ya tentu, yang diobrolkan dan didiskusikan di kedai kopi di Batam, tidak sehebat seperti yang di Paris atau London, dulu. Tapi, apa pun obrolan di kedai kopi itu memberikan gambaran tentang kesadaran politik rakyat, yang jauh dari pusat kekuasaan.
Meskipun, kerap kali kita dengar, bahwa kesadaran politik masyarakat masih rendah, masih kurang. Kata orang pintar, itu terjadi, karena memang rata-rata pendidikan masyarakat Indonesia masih kurang makanya perlu pelembagaan partisipasi masyarakat. Mereka tidak bisa dipaksa untuk memiliki kesadaran politik tinggi, untuk melek politik, karena itu.
Sementara itu, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat ini memberikan peluang, menjadi lahan empuk bagi para petualang politik, para pemburu kekuasaan, pada saat pemilu (juga pilkada bahkan juga pilkades), untuk berkiprah. Mereka, misalnya, memanfaatkan kondisi seperti itu untuk praktik money politic, politik uang, juga politik sektarian, politik identitas untuk memobilisasi massa.
Baca Juga: Kadiv Propam Mabes Polri Irjen Pol Ferdy Sambo Resmi Dinonaktifkan
Dengan itu, masyarakat hanya tahu bahwa politik hanya berkaitan dengan kekuasaan. Ini yang membuat mereka “emoh” politik. Padahal politik itu tidak hanya berarti sebagai kontestasi untuk memerebutkan kekuasaan. Tetapi, politik juga berarti kesepakatan untuk menaati aturan main dalam hidup bersama dengan orang lain.
Jadi di sini, politik lebih diartikan diartikan sebagai kesadaran akan tugas dan kewajiban setiap orang dalam hidup bermasyarakat, hidup bersama. Maka itu, politik tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan keseharian setiap orang siapa pun mereka, suka atau tidak suka.
Itulah sebabnya, sadar atau tidak sadar saban hari orang itu berpolitik. Ketika orang-orang di kedai kopi itu bicara soal soal nama-nama tokoh (juga yang merasa sebagai tokoh) yang disebut-sebut (juga menyebut-nyebut diri sendiri) sebagai pantas dicalonkan (dan mencalonkan diri) sebagai presiden, mereka sudah berpolitik. Begitu pula ketika mereka bicara soal hasil survei dan kemudian membahasnya dalam obrolan itu.
Baca Juga: Bareskrim Usut Kasus Dugaan Pencabulan oleh Anggota DPR Berinisal D di 3 Kota
Mereka fasih menyebut siapa yang unggul dalam survei. Seperti cerita Luhut, mereka tidak hanya menyebut Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan sebagai tiga besar dalam survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei. Tetapi, mereka bisa bicara keunggulan dan kekurangan ketiga-tiganya, bagai seorang analis politik di teve atau YouTube.
Luhut juga bisa memetakan, siapa dan dari kelompok apa yang mendukung Ganjar, Prabowo, atau Anies, dari nguping obrolan mereka. Mereka bisa mengritik dan juga memuji dengan bebas tokoh-tokoh yang mereka obrolkan. Dengan jelas, mereka bisa nyebut, siapa yang ngomong doang, siapa kerja nyata, siapa yang jaim, siapa yang pencitraan doang siapa yang supel dan ramah. Semua terbuka, karena sekarang zaman terbuka.
***
Nguping obrolan di kedai kopi pagi itu, memberikan gambaran kecil bahwa wacana pemimpin baru tampaknya sudah menelusup ke relung-relung hati rakyat. Gambaran pemimpin mendatang yang mereka harapkan–moga-moga juga harapan sebagian besar rakyat Indonesia–juga jelas: seorang pemimpin yang punya integritas, yang sejalan antara apa yang diomongkan dan yang dilakukan.