opini

'SEMOGA CEPAT WARAS' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Selasa, 28 Juni 2022 | 15:56 WIB
Ilustrasi (Giftcard)

Ada juga yang berbuat sebaliknya. Menutupi wajahnya dengan topeng satria, padahal raksasa; bertopeng dewi, padahal sesungguhnya raseksi. Berjubah begawan, tapi dari mulutnya keluar kata-kata kebencian, tipu-daya, kebohongan, juga pemecah belah. Ada pula orang-orang yang bertopeng, yang punya kepentingan-kepentingan mendadak, atau kepentingan lima tahunan.

Baca Juga: Nikita Mirzani Tampil Seksi Saat Meninjau Pembangunan Holywings Beach Club Bali

Karena itu, orang ramai-ramai korupsi. Kan, edan itu. Nggak waras. Tapi, banyak orang–ya legislatif, ya eksekutif, pejabat partai, ormas bahkan pengawal hukum dari pusat sampai daerah–yang terjangkiti penyakit rakus, tamak, dan gila dunia dalam kehidupan ini. Akibatnya norma-norma kehidupan, nilai baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas tidak lagi menjadi bahan pertimbangan seseorang dalam melakukan sesuatu.

Kegilaan, ketidak-warasan wujudnya macam-macam, tidak hanya korupsi. Tetapi juga intoleran, mengingkari kebhinnekaan bangsa, mengingkari kemajemukan bangsa dan budaya, diskriminatif, mengagungkan budaya asing ketimbang budaya nusantara, nyebarin hoax, nyebarin ujaran kebencian, goreng-nggoreng isu, mlintirin berita atau isu, memanfaatkan derita orang lain untuk kepentingan diri, menganggap dirinya paling saleh, paling pintar, dan paling benar, politik uang, pencucian uang, politisasi agama, gratifikasi, sogok-menyogok …masih banyak lagi.

Ini persis seperti yang dulu dikatakan Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga besar Keraton Surakart, dalam Serat Kalatidha, “Amenangi zaman edan…..yen tan melu anglakoni, boya keduman milik….” mengalami zaman edan …apabila tidak turut serta gila tidak mendapatkan bagian…. Maka, orang pada “ngedan“, berlaku seperti orang gila yang tidak punya lagi rasa malu.

Baca Juga: Langgar Ketentuan, Pemprov DKI Cabut Izin Usaha Seluruh Outlet Holywings di Jakarta

***

Maka benar yang dikatakan sahabat saya itu, sekarang ini, orang-orang yang memiliki kalbu, yang memiliki hati, kebeningan hati, ilmu yang dalam, menep, akal pikiran yang jernih, yang masih memiliki sense of morals and ethics, semakin sedikit. Kita belum lama kehilangan salah satu tokohnya, atau malah tokoh besarnya yakni Buya Ahmad Syafii Maarif.

Rasanya juga makin sedikit pribadi-pribadi yang integer bersih–integer adalah bahasa Latin yang artinya antara lain, utuh dan lengkap–bukan manipulator rekayasa apapun. Dari kata integer itu lahirlah kata integritas yang antara lain berarti, kelurusan hati, sifat tidak mencari keuntungan sendiri ketulusan kejujuran, kebaikan, kesalehan, dan kemurnian.

Kewarasanlah yang akan membebaskan kita: bebas dari kepicikan berpikir, bebas dari kebebalan hati, bebas dari sikap arogansi, bebas dari sikap intoleran, bebas dari kemunafikan dan segala sikap yang merendahkan martabat manusia dan kemanusiannya.

Baca Juga: IPW: Pengusutan Kasus Tewasnya Dua Bobotoh oleh Polda Jabar Sangat Lamban

Keberanian bersikap seperti itu adala buah dari nalar yang berusaha tetap sehat, tetap waras. Maka benar donga sahabat saya Bre Redana, “semoga cepat waras.” Mereka itu…..***

 

Sumber: https://triaskredensialnews.com/kredensial/semoga-cepat-waras/

 

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB