opini

RESHUFFLE, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Kamis, 16 Juni 2022 | 10:49 WIB
Presiden Joko Widodo dan Wapres Maruf Amin (Sekretariat Presiden/Muchlis)

Presiden Jokowi menyampaikan keterangan usai pelantikan menteri dan wamen Rabu 15 Juni 2022 (Sekretariat Presiden)

Sebenarnya reshuffle kabinet adalah hal yang wajar, lumrah saja dalam sebuah pemerintahan. Meski demikian tetaplah menarik. Secara normatif reshuffle diwacanakan sebagai solusi presiden untuk mengatasi stagnasi yang menghambat pencapaian kerja kabinet. Namun, biasanya masyarakat mengartikannya sebagai upaya mengakomodasi kepentingan-kepentingan politik.

Baca Juga: CERBUNG: Inspirasi Melankolis..! Episode I LOVE IN TURKEY Oleh: AhliyaMujahidin

SBY, misalnya, melakukan reshuffle kabinetnya sebanyak 20 kali. Pada periode pertama pemerintahannya (2004-2009), terjadi 11 kali reshuffle. Lalu periode kedua (2009-2014) ia me-reshuffle kabinetnya 9 kali.

Bukan kali ini saja, Jokowi merombak kabinetnya. Pada pemerintahan pertama, tiga kali ia merombak kabinetnya. Yang pertama, Rabu Pon, 12 Agustus 2015. Saat itulah, Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Hukum (Menko Polhukam), Rizal Ramli ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, dan Darmin Nasution menjadi Menteri Koordinator Perekonomian.

Hampir setahun kemudian, Jokowi kembali merombak jajaran kabinet. Reshuffle kedua dilakukan pada Rabu Pon, 27 Juli 2016. Saat itu, Jokowi merombak 13 posisi menteri. Di antaranya, Jokowi memanggil pulang Sri Mulyani yang sedang menjabat sebagai Direktur Bank Dunia untuk menjabat sebagai Menteri Keuangan. Jokowi juga mencopot Anies Baswedan dari posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan lalu menunjuk Muhadjir Effendy sebagai penggantinya.

Baca Juga: Kemenag Gelar Sidang Isbat Awal Dzulhijjah pada 29 Juni untuk Menetapkan Idul Adha 1443 H

Lalu, pada Rabu pahing, 17 Januari 2018, untuk ketiga kalinya Jokowi me-reshuffle kabinetnya. Saat itu, Khofifah Indar Parawansa mundur dari jabatannya sebagai Menteri Sosial karena maju dalam Pilkada Jawa Timur. Jokowi kemudian menunjuk Idrus Marham menggantikan posisi Khofifah. Ia juga menunjuk Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko menggantikan Teten Masduki sebagai Kepala Staf Kepresidenan.

Pada 15 Agustus 2018, Jokowi me-reshuffle kabinetnya lagi. Ini perombakan keempat. Yang diganti adalah Menteri PAN-RB Asman Abnur dan digantikan Syafruddin. Asman mundur lantaran partainya, Partai Amanat Nasional (PAN) keluar dari barisan koalisi pendukung pemerintahan Jokowi-JK.

Tak lama kemudian yakni 24 Agustus 2018, Jokowi kembali melantik menteri baru, yaitu Agus Gumiwang Kartasasmita. Agus mengantikan posisi Idrus Marham sebagai Menteri Sosial lantaran terjerat masalah hukum.

Baca Juga: Reshuffle Kabinet Rabu Pahing, Zulkifli Hasan dan Hadi Tjahjanto Dilantik menjadi Menteri Bersama Tiga Wamen

Pada periode kedua pemerintahannya, dilakukan juga reshuffle. Tanggal 23 Desember 2020, Jokowi melantik enam menteri serta lima wakil menteri baru Kabinet Indonesia Maju pada Rabu, 23 Desember 2020.

Lalu, Pada Rabu Wage, 28 April 2021, Jokowi melantik dua menteri Kabinet Indonesia Maju untuk sisa masa jabatan periode tahun 2019-2024 serta satu kepala lembaga pemerintah nonkementerian.

Jadi sekali lagi, reshuffle kabinet adalah hal yang wajar, lumrah saja dalam sebuah pemerintahan. Karena itu, yang digantipun harus menerima realitas itu. Bukan setelah keluar lapangan ngomel-ngomel nggak karu-karuan, seperti yang sudah-sudah, langsung beroposisi terhadap pemerintah.

Baca Juga: Sebanyak 317 Kasus Aduan Masuk, Dewan Pers akan Tertibkan Media yang Abaikan Etika.

***

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB