Kata Imam Al-Gazali, “Ketahuilah bahwa rasa syukur merupakan tingkatan tertinggi, dan ini lebih tinggi daripada kesabaran, ketakutan (khauf), dan keterpisahan dari dunia (zuhud).”
Maka Dietrich Bonhoeffer (1906-1945), seorang teolog dan pastor Lutheran Jerman yang dibunuh di kamp konsentrasi Nazi pernah berkata, “Hanya oleh rasa syukur saja kehidupan ini menjadi kaya.”
Jika seorang seperti Bonhoeffer yang hidup dan disiksa di kamp penyiksaan bisa berkata demikian, maka terlebih lagi kita semua. Kita diminta untuk mengingat semua hal—baik itu besar ataupun kecil—yang telah diberikan kepada kita.
Maka, Confitemini Domino quoniam bonus! bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Mengucap syukur adalah pilihan, bukan perasaan. Sebab, tak satu peristiwa pun merupakan suatu kebetulan. Semua-nya dalam penyelenggaraan Ilahi, providentia Dei.
Rasa syukur memiliki dampak yang besar untuk jiwa kita. Secara psikologis maupun spiritual, rasa syukur dapat mengurangi stres, kegelisahan, dan juga kekhawatiran.
Mengucap syukur adalah kendali untuk tetap rendah hati. Bersyukur dalam setiap situasi membantu kita semua tetap kuat menghadapi segala persoalan.
Baca Juga: Woow! Pebalap Formula 1 Lewis Hamilton Akan Membeli Klub Liga Inggris Chelsea
Dokter Bedjo benar, bahwa kita harus selalu bersyukur. Dalam rumusan Pak Jakob Oetama, “Bersyukur tiada akhir.”
Maka di ruang UGD, malam itu dalam hati kuucapkan: Ya, Hyang Ilahi, Engkaulah yang membentuk buah pinggangku dan menenun aku di dalam rahim ibuku. Engkau menyelidiki dan mengenal aku. Segala jalanku Kau maklumi.
Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat rumahku di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntunku, dan tangan kanan-Mu memegangku.
Baca Juga: Banyak Gereja Menjadi Lokasi Vaksin, Sejuta Vaksinasi Booster Yang Digelar PBNU Lampaui Target
Maka kuserahkan segala diriku seutuhnya kepada-Mu…inilah tanda syukurku pada-Mu.
Mungkin ucapan syukur kita ibarat kata hanya setetes air di samudra. Tetapi seperti kata Bunda Teresa “We ourselves feel that what we are doing is just a drop in the ocean. But the ocean would be less because of that missing drop”. Kita merasa bahwa perbuatan kita hanyalah setetes air di samudra. Namun, samudra akan berkurang jika setetes air tersebut tidak ada.
Terima kasih dokter Bedjo...***