Kata Edward Hunter yang memopulerkan kata brainwashing, istilah brainwashing diambil dari bahasa Mandarin xi-nao: xi (wash, mencuci) dan nao (brain, otak). Menurut Philip S Naudus (2021) ungkapan China ini diturunkan dari ajaran Buddha dan Tao tentang pembersihan mental. Jika seseorang kembali dari perjalanan yang membuka mata, akan dikatakan bahwa otaknya telah dicuci.
Sebenarnya, sepuluh hari, 14 September 1950, sebelum Edward Hunter menulis tentang brainwashing di Miami News sudah ada orang lain yang mengemukakannya. Yakni, seorang novelis yang juga propagandis, Paul Linebarger.
Menurut Charlie Williams, yang menemukan tulisan Paul Linebarger saat menyusun disertasi, istilah tersebut ditemukan Paul Linebarger saat mengobservasi Semenanjung Korea di awal Perang Korea (1950-1953). Paul Linebarger menggambarkan apa yang dilihat sebagai proses tanpa henti yang disebut dengan sebutan brainwashing” Dengan cara ini, para interogator komunis berusaha mengubah orang-orang China dan Korea tunduk pada otoritas komunis (Charlie Williams, 2021)
Dalam rumusan Edward Hunter, proses cuci otak ini “mengubah secara radikal (isi otak) sehingga pemiliknya menjadi boneka hidup—robot manusia—yang tampaknya dari luar tidak ada kesan kejam.” Jadi, pada awal mulanya brainwashing berarti indoktrinasi intensif Maoisme dan penindasan kejam terhadap ideologi politik alternatif.
Karena itu, Hunter yang dikenal sebagai wartawan, penulis, tukang propaganda, dan agen dinas rahasia AS ini mengingatkan bahayanya cuci otak ini. Hunter menyatakan polisi rahasia China dan Uni Soviet mengembangkan teknik yang hebat ini untuk memanipulasi otak,
Proses cuci otak ini adalah “mengubah secara radikal (isi otak) sehingga pemiliknya menjadi boneka hidup—robot manusia—yang tampaknya dari luar tidak ada kesan kejam.”
Baca Juga: SNMPTN : Ini Lho, Kriteria yang Bakal Lolos SNMPTN Unpad, Salah Satunya Daerah Asal
Tentu, “cuci otak” yang dilakukan Terawan, tidaklah demikian. Paling tidak Handrawan Nadesul menyebutnya brain flushing, kuras otak.
III
Soal cuci otak ini, sahabat saya Ken Setiawan, pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, pernah bercerita. Kata Ken yang pernah menjadi korban cuci otak NII, anak-anak muda ya laki, ya perempuan dicuci otaknya tidak hanya agar benci pada negara, bahkan pada orangtuanya sendiri.
Jadi, ini sesuai dengan pengertian yang disodorkan Merriam-Webster. Brainwashing adalah indoktrinasi paksa untuk mendorong seseorang melepaskan keyakinan serta sikap politik, sosial, atau agama dan untuk menerima ide-ide yang baru bertentangan (www.merriam-webster.com)
Baca Juga: Umat Islam Boleh Salat Tarawih di Masjid, Begini Kata MUI
Otak mereka dibersihkan dari segala macam pikiran lama, pandangan lama, keyakinan lama, dan juga ideologi lama digantikan dengan semua yang serba baru: pikiran, pandangan, keyakinan, dan ideologi. Misalnya, kata Ken, mereka tidak boleh mengakui NKRI, tidak boleh mengakui Pancasila sebagai ideologi dan dasar bangsa, juga dilarang mengakui UUD 1945 sebagai dasar negara.
Menyanyikan lagu Indonesia Raya juga dilarang. Demikian juga patuh dan menghormati orangtua, dilarang. Mereka dicekoki agama dan nilai-nilai agama versi para pencuci otak.
Ini, tentu juga beda bahkan sangat berbeda dengan DSA (Digital Substraction Angiography) dan juga cuci otak Dokter Terawan. Yang satu urusan medis, yang satunya lagi urusan idiologi-politik. Ya, nggak ketemu.