opini

RARA MENDUT oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Minggu, 27 Maret 2022 | 08:55 WIB
Pertemuan Rara Mendut (Hepi Salma) dan Pranacitra (Ali Marsudi) (www.indonesiakaya.com)

Sumpah Pemuda 1928 adalah tonggak pemersatu kebhinnekaan, kemajemukan kita. Kita semua tahu akan hal itu. Hanya, kadang kita melupakannya atau sengaja melupakan atau tutup mata atau berusaha untuk menyamakan semuanya sesuai dengan kehendaknya atau kemauannya sendiri. Yang berbeda dipandang dan dianggap sebagai bukan dari bagiannya.

Bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang tunggal. Tetapi, bangsa yang majemuk terdiri dari berbagai suku bangsa, agama dan kepercayaan, bahasa, dan paham politik yang dianut. Perbedaan itu adalah anugerah Sang Pencipta Alam Semesta. Karenanya kita menjadi plural, sesuai dengan kehendak-Nya.

Bukan kehendak kita! Demikian pula budaya kita pun beragam. Setiap budaya memiliki karakter yang menjadi penciri identitas atau jati diri masyarakat pendukung budaya itu dan sekaligus sebagai pembeda terhadap “yang lain”. Tetapi, tetap dalam satu bingkai ke-Indonesiaan.

Baca Juga: Piala FA: Manchester City Vs Liverpool Berlaga Lebih Dulu, Disusul Chelsea Vs Crystal Palace di Wembley

Setiap masyarakat memiliki kebudayaan yang dijadikan pedoman dalam perilaku. Oleh karena dasar berpikir yang melatarbelakangi kebudayaan mereka berbeda-beda, maka wujud perilaku yang tampak dalam keseharian mereka juga tidak sama. Hal itulah yang mempengaruhi adanya multibudaya dalam masyarakat dunia, termasuk Indonesia.

Kemajemukan dan kearifan multikultural telah berakar cukup lama. Tetapi, belakangan ini rasanya terciderai; kesalahan perlakuan mengakibatkan kebhinnekaan bukan menjadi pemerkaya budaya bangsa melainkan sebaliknya menjadi faktor pemicu konflik dan pemecah belah. Jadi, persoalan aktual kebangsaan sejak kemerdekaan NKRI adalah prihal “mengelola perbedaan”.

Semestinya keanekaragaman, pluralitas itu dikelola dan dikembangkan menuju satu kesatuan masyarakat multikultural. Kecuali tidak mau mengakui keanekaragaman, kepluralitasan bangsa dan budaya bangsa Indonesia…Kalau begitu, ya gampang saja: jangan jadi bagian dari bangsa Indonesia.

Baca Juga: Pendamping Korban Dugaan Penipuan Robot Trading, Ancam Tuntut Rp 1 Trilyun, Pihak yang akan Menggugatnya Balik

Barangkali dalam konteks ini kita semestinya melihat Rara Isiani Wulandari; jangan memakai kacamata kuda. Lepaskanlah kacamata kuda itu, bukalah hati dan pikiran ketika melihat perbedaan pada orang lain.

Begitulah cerita Rara Mendut dan Rara Istiani Wulandari….***

 

Sumber: https://triaskun.id/2022/03/26/rara-mendut/

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB