Sedangkan konsep tentang kematian dan hidup sesudah mati (akhirat) dipengaruhi oleh ajaran Islam. Karena itu, menurut Niels Mulder (1992), Agama Jawi lebih menekankan pada kebaikan kehidupan manusia di dunia dengan berbagai dimensinya daripada ajaran eskatologi itu sendiri.
Karena itu, ada pula yang berpendapat bahwa sesaji atau sajen sebenarnya merupakan suatu upaya harmonisasi, melalui jalan spiritual yang kreatif untuk menyelaraskan dan menghubungkan antara daya aura magis manusia, dengan seluruh ciptaan Tuhan yang saling berdampingan di dunia ini, khususnya kekuatan alam maupun mahkluk ciptaan Tuhan.
Baca Juga: Dear Penderita Maag, Hindari 5 Minuman Ini!
III
Maka, kata Romo Budi Subanar, sajen lebih ditempatkan sebagai sarana yang membawa orang pada kemampuan melakukan transendensi baik horizontal–terkait dengan relasi sosial–maupun vertikal.
Transendensi memberi pemahaman berupa kesadaran manusia akan Tuhan.
Berangkat dari pemahaman itu, diharapkan manusia dapat selalu membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, juga mahkluk ciptaan-Nya.
Baca Juga: Desa Wisata Kembang Arum Sleman, Lokasi Ideal Buat Outbond
Hal ini akan berdampak pada nilai-nilai ketuhanan menjadi sesuatu yang tidak terpisahkand dari kehidupan manusia. Dengan demikian, dimensi transendensi menjadi puncak dari kesadaran manusia.
Puncak inilah yang akan menyelarasakan kesadaran manusia dengan perilakunya. Dimensi transendensi memberikan arahan nilai religiousitas sehingga manusia dapat terhubung dengan Tuhan, selanjutnya akan terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari dalam wuud liberasi dan humanisasi.
Dari sini muncul ungkapan kurang sajen, cah kurang sajen, atau wong kurang sajen. Karena kurang sajen, maka tidak harmonis lagi, tidak selaras lagi dengan lingkungan, dan juga perilakunya tidak selaras dengan norma-norma yang ada dan berlaku umum di masyarakat.
Baca Juga: Kalahkan Chelsea, Manchester City Unggul 13 Poin. Tim Pep Guardiola Segel Gelar Juara?
Ungkapan kurang sajen ditujukan pada seseorang (mungkin juga kelompok orang) yang berkelakuan aneh (lebih berkonotasi negatif) yang kurang genep (genap) menurut ukuran manusia normal dan waras.
Tetapi, di kemudian hari ungkapan kurang sajen itu juga ditujukan kepada seseorang yang tindakan maupun ucapannya tidak sejalan dengan paugeran umum yang berlaku di masyarakat.
Dahulu, bila dalam sebuah hajatan ada yang kesurupan, maka orang akan mengatakan, hajatan itu “kurang sajen.” Sekarang, manifestasi dari kurang sajen itu macam-macam.