opini

DI LEMBAH BUKIT MENOREH, Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Senin, 17 Januari 2022 | 11:38 WIB
Hamparan sawah di lembah Bukit Menoreh (Trias Kuncahyono)

Baca Juga: INFO LOKER : Lowongan Kerja PT Berdikari untuk Lulusan SMK dan D3, Duruan Daftar Sebelum 20 Januari 2022

Mereka membiarkannya karena tidak merasa bahwa money politics secara normatif adalah perilaku yang harus dijauhi.

Dalam kondisi seperti itu tumbuh praktik klientelisme politik. Kata Edward Aspinall dan Ward Berenschot (2020), klientelisme politik terjadi ketika para pemilih, para penggiat kampanye, atau aktor-aktor lain menyediakan dukungan elektoral bagi para politisi dengan imbalan berupa bantuan atau manfaat material.

Para politisi menggunakan metode itu untuk memenangkan pemilihan dengan membagi-bagikan bantuan, barang-barang, atau uang tunai, atau juga mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan para calon pemilih atau kelompok-kelompok.

Baca Juga: Jamu Ginggang Pakualaman Yogyakarta, Kini Dipegang Generasi Kelima dan Dijual Online

Esensi dari politik klientelisme adalah quid pro quo, sesuatu untuk sesuatu.

Sawah kedua pun yakni masyarakat sipil, kata Cak Kardi, tidak lagi menjadi tempat pesemaian kepemimpinan. Sebab, para aktivis dan pemikir yang sebelumnya bagaikan padi yang tumbuh subur di sawah ini, telah pindah ke “lahan” lain yakni lebih suka masuk politik praktis, yang lebih menguntungkan.

Akhirnya mereka gagal menjadi energi penggerak, energi transformatif. Di sawah yang mereka tinggalkan tumbuh ilalang, pemimpin karbitan, pemimpin berdasarkan kepentingan.

Baca Juga: Kalahkan Chelsea, Manchester City Unggul 13 Poin. Tim Pep Guardiola Segel Gelar Juara?

Kata Cak Kardi, di sawah ketiga pun—kelompok-kelompok agama— tak lagi menyemai pemikir dan penggerak perubahan yang bebas dari kerangkeng sempit tafsir teologis untuk berpijak pada kekuatan struktur basis, rakyat.  

Yang muncul justru penggerak-penggerak yang berpikiran sempit dan menggoyahkan bangunan kenegaraan yang plural karena terpenjara fanatisme buta, bukan kelapangan hati dan pikiran.

Semestinya, semakin beriman semakin toleran, semakin terbuka hati dan pikirannya pada orang lain, pada perbedaan yang ada di negeri ini.

Baca Juga: Pelatih Rafael Benitez Dipecat Everton Setelah Hanya Catat Dua Kemenangan Dalam 14 Pertandingan

Ilustrasi Anak Mengibarkan Bendera Merah Putih (Istimewa)

III

Jadi Cak, dari mana pemimpin rakyat lahir kalau tidak dari sawah-sawah itu? Memang, ibarat pepatah, sawah berpematang (berpiring) ladang berbintalak, segala sesuatu ada batasnya.

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB