Oligarki menjabarkan proses dan tatanan politik terkait sejumlah kecil individu kaya yang bukan hanya berkuasa karena sumber daya material, melainkan juga terpisah karena berseteru dengan sebagian besar komunitas.
Oligarki berpusat pada tantangan politik pertahanan konsentrasi kekayaan (Prisma, Vol.33, 2014).
Guru besar ilmu politik dari Universitas Northwestern, AS itu menambahkan, oligark adalah aktor yang diberdayakan oleh kekayaan—sumber daya paling menonjol di antara bentuk-bentuk kekuasaan lainnya.
Baca Juga: Malu Gigi Kamu Kuning? Yuk, Cari Tahu Penyebabnya...
Kekayaan yang jelas paling serba-guna dalam arti mudah diubah menjadi pengejawantahan kekuasaan yang lain.
Penggunaannya berkisar mulai dari membeli jabatan dan hasil legal-politik sampai menyewa massa dan milisi bersenjata.
Banyak cerita berkait dengan jual-beli jabatan itu, mulai dari jabatan yang rendah sampai yang tinggi. Kasus di Probolinggo, sekadar menyebut sebagai salah satu contoh.
Baca Juga: Seru! Makan Sambil main Air di Ketjeh Resto
Jatuhnya para pejabat, pemimpin daerah karena korupsi, contoh yang lain, tentang bagaimana dahsyatnya kekuasaan kekayaan itu. Demonstrasi bayaran, banyak dimuat media.
Dengan kata lain, mereka, para oligark, perkasa karena punya kuasa bersama atas sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya professional, dan sumber daya keuangan.
Itulah sebabnya, sais “Cikar Reformasi” harus berjuang keras, mengerahkan segala daya dan upaya untuk menghadapi para “Opas Polisi” yang adalah manifestasi para oligark. Pengaruh kaum oligark ada di mana-mana.
Baca Juga: Hoaks! Remaja Ikut Olimpiade Tahfidz Alquran di Makkah. Begini Penjelasannya
Saat sais bekerja keras, yang lain tidur nyenyak hingga mimpi, ngelindur, dan bahkan ngoceh sesukanya dalam tidurnya. Dalam tidurnya, mereka merasa bekerja.
Dalam tidurnya, mereka merasa telah melakukan banyak hal yang luar biasa, yang hebat. Dalam tidurnya ngelindur, ngoceh tiada henti, mengatakan sais tidak mampu mengendalikan sapi penarik cikar, jalannya pelan, melenceng jalannya, goblok, dungu, tidak tahu arah jalan, dan sebagainya.