Benar kata Herry-Priyono (2022) demokrasi menjadi istilah untuk membenarkan apa saja, dari penyebaran hoaks hingga tribalisme politik sentimen agama. Maka ada yang melemparkan kritik tanpa dasar, tanpa data yang lengkap dan sahih. Sebab, yang penting cari popularitas.
Mereka itu lupa bahwa pernah ikut menikmati manis, gurih, dan lezatnya kue kekuasaan. Mereka lupa bahwa ketika memiliki kekuasaan tak banyak berbuat bagi kemaslahatan rakyat banyak sebagaimana diamanatkan oleh demokrasi.
Baca Juga: INFO HAJI 2023 : Ini Dia Layanan Untuk Jemaah Di Madinah
Memang, di negeri ini, tidak ada larangan mengritik pihak lain. Bahkan terhadap pemerintah. Apalagi negeri ini adalah negeri demokrasi; maka kritikan mendapat tempat terhormat. Hanya saja, semua itu dilakukan dengan cara yang benar untuk mengindahkan demokrasi. Mengritik berbeda dengan melecehkan, mengecam, dan menghina, mencemarkan nama baik seseorang atau lembaga, dan juga menghasut, misalnya.
***
Malam itu, di lobi, saya juga ingat pertanyaan kecil saat makan pagi: "Apakah pemilu presiden 2024 akan lebih baik dibanding pemilu presiden 2019 atau lebih buruk?"
Pertanyaan lanjutannya adalah, apa yang menentukan bahwa pemilu itu baik atau tidak baik? Sebenarnya, saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Kalaupun bisa menjawab, jawaban itu pun hanya berdasarkan common sense, bukan berlandaskan teori politik yang "ndakik-ndakik", canggih.
Rasanya, selama para kandidat masih hanya memikirkan kepentingan elektoral, maka pemilu presiden 2024 nanti tidak akan lebih baik, tidak lebih berkualitas dibanding pemilu presiden 2019.
Memikirkan dan memburu kepentingan elektoral itu penting. Tetapi, rakyat ingin tahu apa yang akan mereka lakukan untuk membawa negeri maju. Apa visi mereka tentang Indonesia ke depan. Apa ide-idenya, gagasan-gagasannya, program-programnya yang akan menjadi persiapan sekaligus landasan untuk memasuki 100 tahun Indonesia?
Mungkin, semua itu akan mereka "jual" pada rakyat pemilih bila waktunya—menurut mereka—tiba. Maka sekarang ini, mereka masih asyik jualan citra dengan berbagai cara.
Mereka keluar masuk kota, desa dan kampung, pergi ke seluruh pelosok negeri memperkenalkan diri kepada rakyat jelata, pemimpin masyarakat, juga pemimpin agama dengan tanpa henti menebar senyum dan pelukan, serta kata-kata kosong.
Begitulah memaknai politik saat ini. Bebas. Sebebas saya malam itu, di lobi hotel membayangkan pemilu yang bermutu, yang lebih baik dibandingkan pemilu presiden 2019; membayangkan pesta demokrasi yang betul-betul pesta...bukan pesta miras yang membuat mabuk kepayang...sehingga merancau, ngomong sesukanya tak peduli kiri kanan, tak peduli orang lain....***
Artikel Terkait
Perkembangan dan Pengasuhan Anak dalam Perspektif Budaya Jawa
Cerita Bersambung: KADO BIRU UNTUK SUAMI Part 16 [TAMAT]
Cerita Bersambung: Surgamu Menyiksaku By. Sinar Cinta Part 13 (TAMAT)
Inspirasi Melankolis.....! G E M I N T A N G prilyrm episode : 35 BALADA BUMIL ( TAMAT)
Cerita bahasa Jawa: TRESNA TAN MUSNA (Christiningsih Ny) Episode 6 - Cuthêl. TAMAT
'BUKAN TOPENG MONYET' oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'PESAN SINGKAT DI HARI JUMAT' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
'TONGSENG SULTAN' Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku