Namun, yang paling melukai bukanlah kerugian finansial.
Tapi rasa dikhianati. Tidak dihargai.
Dalam wawancara dengan CNBC pada 4 Juni 2025, Musk berkata:
“Saya memberikan banyak hal kepada negara ini. Teknologi, lapangan kerja, bahkan satelit untuk Ukraina dan negara-negara berkembang. Tapi Trump tak pernah mengucap terima kasih. Yang ia tahu hanya menyerang.”
Sakit itu datang bukan dari musuh.
Tapi dari tangan yang dulu bersalaman sebagai sahabat.
Baca Juga: Sinopsis dan Daftar Pemain Film Horor Tenung, Tayang 5 Juni 2025 di Bioskop
Banyak yang tahu bahwa Elon Musk menyumbangkan sekitar $277 juta. Itu setara Rp4,5 triliun, untuk mendukung kemenangan Donald Trump dan Partai Republik dalam Pemilu 2024.
Jumlah ini menjadikannya donor individu terbesar dalam siklus pemilu tersebut.
Dananya disalurkan melalui sejumlah Political Action Committees (PAC), termasuk America PAC yang ia dirikan sendiri.
Dukungan itu bukan sekadar finansial.
Ia adalah legitimasi.
Dan ketika legitimasi sebesar itu berpaling arah, dunia mendengarnya.
Kini, setelah segala bentuk dukungan itu, Musk justru menyerukan:
Setuju Trump dimakzulkan. Dipecat dari kursi presiden.
Baca Juga: OPINI Nyenyak di Hotel Mewah, Gelisah di Rumah Rakyat Oleh: Budiawan, Host Cangkrukan
Sebelumnya, dunia menyaksikan bromance paling berpengaruh di planet ini: Elon Musk dan Donald Trump.
Dua raksasa ego. Dua pusat gravitasi kekuasaan.
Satu di dunia teknologi. Satu di panggung politik.
Hubungan mereka tampak personal. Penuh gestur saling puji, saling dukung, dan saling tampil.
Elon Musk bahkan menyebut dirinya sebagai “teman pertama” presiden.
Artikel Terkait
Antara Penegakan Hukum dan Ancaman terhadap Kemerdekaan Pers, Oleh: Moehammad Gafar Yoedtadi
PAUS LEO XIV: PERTANDA ZAMAN (1): WHITE SMOKE, BLACK POPE
PAUS LEO XIV: PERTPAUS LEO XIV : PERTANDA ZAMAN (2): BUKAN TEOLOG, BUKAN DIPLOMAT
PAUS LEO XIV: PERTANDA ZAMAN (3): DUNIA PENUH GEJOLAK
KETIKA UNIVERSITAS HARVARD MEMILIH UNTUK MELAWAN PRESIDEN DONALD TRUMP
KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA
'PEMBANTAIAN DI FINAL LIGA CHAMPIONS EROPA 2025 DAN FILOSOFI BARU SEPAKBOLA' Oleh: Denny JA
'ARTIFICIAL INTELLIGENCE TAK MEMBUNUH PENULIS, TAPI MENGUBAHNYA', Oleh Denny JA
OPINI "Nyenyak di Hotel Mewah, Gelisah di Rumah Rakyat" Oleh: Budiawan, Host "Cangkrukan"