Masih di platform X, Elon menulis:
“Saatnya menjatuhkan bom besar: @realDonaldTrump tercantum dalam dokumen Epstein.
Itulah alasan sebenarnya mengapa dokumen itu belum dipublikasikan.
Semoga harimu menyenangkan, DJT!”
Dokumen Epstein merujuk pada arsip investigasi Jeffrey Epstein, finansier yang terlibat dalam skandal perdagangan seks dan pelecehan anak di bawah umur.
Baca Juga: 3 Rekomendasi Film Tentang Nabi, Cocok Ditonton Saat Libur Idul Adha
Jika tuduhan Musk benar, ini bukan sekadar bom. Ini meteor.
Mungkin peluru terakhir dalam drama pemakzulan Donald Trump.
Ya. Elon Musk, sang raja teknologi yang pernah duduk di samping meja Presiden, kini berdiri menentang.
Amerika terpana. Dunia tertegun.
Aliansi yang dahulu tampak kokoh, hancur hanya oleh satu kata.
Baca Juga: Cara Perbaikan Nama di e-Ijazah dari Perubahan Format Huruf hingga Perubahan Data Nama Salah
Mari kita tarik waktu ke belakang, ke tahun 2016.
Trump baru saja menang. Hampir seluruh elite Silicon Valley menutup pintu.
Tapi Musk melangkah masuk.
Ia bergabung dalam Presidential Advisory Forum—melawan arus.
“Saya lebih baik berada di meja diskusi, memengaruhi arah kebijakan, daripada berada di luar dan hanya mengeluh,” ujar Musk saat itu.
Tahun-tahun awal tampak hangat.
Di balik layar, Musk melobi kebijakan energi hijau, teknologi luar angkasa, dan kontrak pemerintah.
SpaceX tumbuh. Tesla meledak.
Mereka tak selalu sejalan, tapi saluran komunikasi tetap terbuka.
Baca Juga: Cara Tarik Uang dari Aplikasi Mova ke Rekening Bank atau E-Wallet DANA dan ShopeePay dengan Mudah
Hubungan mereka kembali menguat saat Trump memenangkan Pilpres 2024.
Musk memuji pendekatan Trump yang “pro-bisnis” dan terbuka terhadap deregulasi.
Artikel Terkait
Antara Penegakan Hukum dan Ancaman terhadap Kemerdekaan Pers, Oleh: Moehammad Gafar Yoedtadi
PAUS LEO XIV: PERTANDA ZAMAN (1): WHITE SMOKE, BLACK POPE
PAUS LEO XIV: PERTPAUS LEO XIV : PERTANDA ZAMAN (2): BUKAN TEOLOG, BUKAN DIPLOMAT
PAUS LEO XIV: PERTANDA ZAMAN (3): DUNIA PENUH GEJOLAK
KETIKA UNIVERSITAS HARVARD MEMILIH UNTUK MELAWAN PRESIDEN DONALD TRUMP
KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA
'PEMBANTAIAN DI FINAL LIGA CHAMPIONS EROPA 2025 DAN FILOSOFI BARU SEPAKBOLA' Oleh: Denny JA
'ARTIFICIAL INTELLIGENCE TAK MEMBUNUH PENULIS, TAPI MENGUBAHNYA', Oleh Denny JA
OPINI "Nyenyak di Hotel Mewah, Gelisah di Rumah Rakyat" Oleh: Budiawan, Host "Cangkrukan"