Belum Dibutuhkan, WHO Kecam Vaksin Booster di Negara-negara Kaya

photo author
Leonardo Pamungkas, TitikTemu.co
- Minggu, 22 Agustus 2021 | 09:00 WIB
Vaksin Booster (The Guardian)
Vaksin Booster (The Guardian)

TITIKTEMU.CO

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengecam negara-negara kaya melakukan vaksinasi booster kepada warganya untuk menguatkan pencegahan atas covid-19.

Pasalnya, sampai saat masih banyak negara miskin yang belum bisa mendapatkan vaksin untuk warganya.

Kecaman itu muncul saat pejabat kesehatan AS merekomendasikan semua orang Amerika mendapatkan vaksin booster untuk meningkatkan ketahan terhadap virus karena Baca Juga: Covid-19 Turun, Mengapa Solo Masih PPKM Level 4?efektivitas vaksin menurun.

WHO sendiri belum sepenuhnya yakin vaksin booster dibutuhkan. Alasannya, sains belum memberikan bukti yang jelas tentang peningkatan kemanjuran.

“Kami yakin data yang ada tidak menunjukkan bahwa booster diperlukan untuk semua orang,” kata ilmuwan WHO Soumya Swaminathan, Rabu (18/08) di Jenewa.

Dia mengingatkan dunia akan menghadapi situasi yang lebih mengerikan, jika membiarkan miliaran orang di negara berkembang tidak divaksinasi.

Sementara Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pentingnya  mendapatkan vaksin dosis pertama, serta melindungi mereka yang paling rentan sebelum booster diluncurkan.

Baca Juga: Ayo Cepat Vaksin! Ibu Hamil Jika Terpapar Corona Akan 3X Lebih Sakit, Dibandingkan Yang Tidak Hamil

“Kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin lebar jika pemimpin negara kaya memprioritaskan suntikan booster, daripada memasok vaksin ke negara-negara miskin dan berkembang,” ujar Tedros.

Tedros menamhahkan ketidakadilan vaksin adalah hal yang memalukan bagi seluruh umat manusia. Jika kita tidak mengatasinya bersama-sama, kata dia, maka kita akan mengalami tahap akut pandemi yang lebih panjang selama bertahun-tahun.

Jurnal Medis Nature menggemakan seruan WHO untuk menangguhkan vaksin booster. WHO yakin sejauh ini China akan bekerja sama dalam proyek menyelidiki asal-usul Covid.

Dikutip dari The Guardian, terkait masalah ini Duta Besar China untuk Denmark menyebut tuduhan terhadap China bahwa virus corona berasal dari kebocoran laboratorium atau pengumpulan sampel virus corona kelelawar merupakan tuduhan yang tidak berdasar.

Baca Juga: Mengenal Vaksin Baru Novavax Yang Akan Masuk Indonesia

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ganug Nugroho Adi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X