Kenapa Orang yang Sering Marah Justru Bisa Lebih Sehat Mentalnya daripada yang Selalu Diam?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Kamis, 27 Agustus 2026 | 20:53 WIB

TITIKTEMU.CO-Orang yang gampang marah sering dianggap punya masalah emosi. Sebaliknya, orang yang selalu diam, mengalah, dan berkata “nggak apa-apa” justru kerap dipuji sebagai pribadi yang sabar.

Padahal, dalam urusan kesehatan mental, persoalannya tidak sesederhana itu.

Marah bisa menjadi emosi yang sehat jika dikenali dan disampaikan dengan cara yang tepat, sementara terus-menerus memendam perasaan juga bukan selalu tanda mental yang kuat.

Baca Juga: Merasa Sudah Kelas Menengah? Data BPS Bisa Bikin Gen Z Melihat Kondisi Keuangan dengan Cara Berbeda

Marah Tidak Sama dengan Agresif

Ada satu hal yang sering tertukar: marah dan agresif bukan hal yang sama. Menurut American Psychological Association (APA), marah merupakan emosi manusia yang normal, sedangkan agresi adalah perilaku yang bertujuan menyakiti orang lain. Jadi, merasa kesal kepada pasangan, rekan kerja, atau keluarga tidak otomatis berarti seseorang punya masalah mental.

Masalah muncul ketika kemarahan berubah menjadi perilaku yang merusak. Membentak, menghina, mengancam, memukul, atau sengaja menyakiti orang lain jelas berbeda dari mengatakan, “Aku marah karena perkataanmu tadi membuatku merasa tidak dihargai.”

Dengan kata lain, yang perlu dikelola bukan keberadaan marahnya, tetapi cara kita meresponsnya.

Baca Juga: Download Minecraft 26.44 untuk Android dan PC: Cara Update Terbaru dan Perbaikan Bug

Selalu Diam Belum Tentu Baik untuk Mental

Budaya “yang sabar ya” memang punya niat baik. Namun, kalau sabar diterjemahkan sebagai harus selalu diam, tidak boleh protes, dan tidak boleh menunjukkan rasa kecewa, masalahnya bisa menjadi lebih rumit.

Dalam psikologi, menekan ekspresi emosi secara terus-menerus dikenal sebagai expressive suppression. Sebuah meta-analisis yang mencakup 43 penelitian menemukan bahwa tingkat penekanan emosi yang lebih tinggi berkaitan dengan sejumlah hasil sosial yang kurang baik, termasuk dukungan sosial dan kepuasan hubungan yang lebih rendah.

Bukan berarti setiap kemarahan harus dikeluarkan begitu saja. Justru sebaliknya, orang perlu belajar mengolahnya sebelum bereaksi.

Baca Juga: Demo 27 Agustus Memanas: RUU Perampasan Aset Jadi Tuntutan, Siapa Saja yang Turun ke Jalan?

Marah Bisa Menjadi Sinyal Penting

Rasa marah terkadang seperti alarm. Ia memberi tahu bahwa ada sesuatu yang dianggap tidak adil, melewati batas, mengecewakan, atau mengganggu kebutuhan kita.

Misalnya, seseorang terus diberi pekerjaan tambahan tanpa pernah diajak berdiskusi. Rasa kesal yang muncul sebenarnya bisa menjadi petunjuk bahwa batas pribadi perlu diperjelas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X