Masjid Pleret Jadi Saksi Perjuangan Pangeran Diponegoro Melawan Belanda

photo author
Teguh Argari Bisono, TitikTemu.co
- Minggu, 17 April 2022 | 15:39 WIB
Masjid Pleret dipercaya menjadi saksi perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda (pic.jatengprov.go.id)
Masjid Pleret dipercaya menjadi saksi perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda (pic.jatengprov.go.id)

TITIKTEMU.CO SUKOHARJO – Satu lagi jejak sejarah perkembangan Islam di Provinsi Jawa Tengah, terlacak di Masjid Darussalam di Dusun Kedunggudel, Kelurahan Kenep, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Masjid itu dipercaya menjadi saksi perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda, yang dibuktikan dengan adanya sebuah sumur yang ditutupi oleh kaca bertuliskan “Sumur Kyai Pleret”.

“Kyai Pleret itu sebenarnya nama dapur tombak. Jadi untuk melegitimasi raja. Di Jawa itu salah satunya harus ada tombak Kiai Pleret. Nah yang melambangkan itu kekuasaan. Sumur Kyai Pleret itu istilahnya kalau Jawa nunggak semi, meniru nama tombak itu,” kata tokoh masyarakat Kedunggudel, Sehono, ditemui di Masjid Darussalam, seperti yang dilansir laman resmi Pemprov Jawa Tengah.

Baca Juga: THR ASN, TNI dan Polri Cair Mulai H-10 Lebaran dan Gaji ke-13 Dibayarkan Juli. Ini Rinciannya

Menurut dia, sumur itu digunakan untuk menyimpan harta perang dari Pakubuwana VI (PB VI)  ke Pangeran Diponegoro. PB VI merupakan Susuhunan Surakarta.

“Jadi wilayah perang Pangeran Diponegoro kan luas sekali. Itu hampir separuh Jawa lebih. Itu Pangeran Diponegoro mendapat dukungan dari Kasunanan Surakarta pada masa PB ke VI itu,” tambahnya.

Sehono menuturkan, dari referensi yang diketahuinya, masjid ini dibangun oleh ulama yaitu Kiai Lombok. Makam sang pendiri masjid berada di belakang masjid.  Kiai Lombok merupakan santri dari Wali Songo yang berasal dari Pulau Lombok. Masjid ini dibangun pada Ahad Pon bertepatan 20 Agustus 1837.

Baca Juga: UMY Buka Program Beasiswa Dokter dan Dokter Gigi, Bebas SPP hingga Lulus, Simak Syaratnya

Konon, masjid ini pula pernah dihujani bom jenis kanon sebanyak 21 kanon. Namun tak satupun yang berhasil meledak. Tujuan Belanda ketika itu, untuk membumihanguskan Kedunggudel.

Mbah-mbahku mbiyen critane kanon kui sak jantung pisang (Nenek moyangku dulu cerita kanon itu ukurannya sama seperti jantung pisang). Itu kalau 21 kali enggak ada yang meletus, itu kebeneran,” jelasnya.

Dusun Kedunggudel sendiri, secara geografis dekat dengan Bengawan Solo. Kemungkinan besar, kata Sehono, Kedunggudel sudah ada sejak sebelum agama Islam masuk. Dia pernah menemukan batu bata merah ukuran besar dari dalam tanah.

Baca Juga: Liga Premier Inggris: Kekalahan Tottenham dan Arsenal, Bangkitkan Peluang Manchester United di Zona Champions

“Jejak sejarah yang ada di sini, saya menemukan batu bata merah itu, berarti menandakan bahwa kampung dan peradaban di sini mungkin sudah ada sejak zaman Majapahit,” tandas Sehono.*** Ikuti beragam berita terbaru, olahraga, lowongan pekerjaan dan informasi bermanfaat lainnya di TitikTemu.co

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Teguh Argari Bisono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X