TITIKTEMU.CO, JOGYAKARTA - Jogjakarta banyak memiliki tempat wisata. Baik berupa wisata alam, kulinar dan wisata budaya. Salah satu obyek wisata budaya menarik adalah Tamansari Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton.
Jika ke Tamansari mata para pengunjung pasti akan tertuju pada salah satu bangunan masjid di depan pintu masuk. Sebuah masjid dengan arsitektur unik dan menarik milik Kraton Jogjakarta. Masjid yang dinamakan Masjid Soko Tunggal.
Masjid ini disebut Soko Tunggal karena hanya ada satu tiang penyangga di masjid tesebut, padahal dalam bangunan tradisional Jawa biasanya terdapat empat tiang penyangga.
Baca Juga: Mau Mudik Pakai Mobil Lewat Tol Jakarta-Solo? Cek Tarif yang Harus Dibayar
Kondisi ini membuat masjid Soko Tunggal menjadi unik dan tiada duanya. Masjid Soko Tunggal dibangun atas inisiatif warga sekitar diatas tanah wakaf Sri Sultan Hamengku Buwana IX dan pembangunannya dibantu Presiden Suharto.
Masjid Soko Tunggal selesai dibangun pada Jumat Pon tanggal 21 Rajab tahun Be/1392 H yang ditandai dengan candra sengkala “Hanembah Trus Gunaning Janma” dan suryo sengkolo "Nayana Resi Anggatra Gusti" (1 September 1972 M).
Baru pada Rabu Pon, 28 Februari 1973 Masjid Soko Tunggal diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana IX sebagaimana yang tertulis dalam tulisan di prasasti yang ada di dinding depan masjid. Sampai sekarang masjid ini masih kokoh berdiri dan menjadi tempat kegiatan keagamaan warga Taman Sari dan sekitarnya.
Baca Juga: SEKOLAH KEDINASAN: Cek Ini Alokasi Formasi Semua Sekolah Kedinasan Tahun 2022!
Ketua Takmir Masjid Soko Tunggal Suprapto mengatakan masjid ini dirancang oleh almarhum Raden Ngabehi Mintobudoyo yang juga arsitek Kraton Jogjakarta.
Masjid yang berada di Kawasan Njeron Beteng ini memiliki empat batang saka bentung dan satu batang soko guru yang jika dijumlah menjadi lima yang bermaknakan 5 sila dalam Pancasila. Soko guru sebagai penyangga utama dimaknai sebagai sila 1 Ketuhanan Yang Maha Esa.
“Adanya usuk sorot yang memusat seperti jari-jari payung disebut Peniung yang melambangkan kewibawaan negara dalam melindungi rakyatnya,” ujar Suprapto beberapa waktu lalu.
Baca Juga: JOGJA…JOGJA…JOGJAKARTA… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Suprapto, juga bercerita bahwa masjid Soko Tunggal juga dihiasi dengan aneka ukiran seperti Praba yang berarti bumi atau wibawa, Saton yang berarti sawiji, Sorot yang berarti sinar cahaya matahari, ukiran Tlancap yang berarti tabah, Ceplok-ceplok yang berarti pemberantas angkara murka, Mirong yang berarti nisan dan dimaknai smua orang kelak akan meninggal dunia.
Tetesan embun diantara daun dan bunga yang terdapat di balok ileng berarti siapa yang salat di masjid akan mendapat anugerah Alloh SWT.
Artikel Terkait
Tahukah Anda Masjid Nabawi Ternyata Dibangun Di Atas Tanah Anak Yatim?
Salat Tahiyatul Masjid, Penghomatan Terhadap Rumah Allah dan Keutamaannya
Apa Manfaat Mendaftarkan Masjid atau Musala ke SIMAS Kemenag? Berikut Penjelasannya
Masjid Luar Batang, Tetap Terpelihara dan Berdiri Kokoh Selama Ratusan Tahun
Jadi Arsitek Masjid Terbaik, Ridwan Kamil Terima Penghargaan Yayasan Abdullatif Alfozan Saudi Arabia
Tips Membawa Anak Kecil ke Masjid Agar Tidak Gaduh dan Mengganggu Jamaah Shalat
RAMADHAN : Bubur India, Satu Abad Jadi Takjil Khas Buka Puasa di Masjid Pekojan Semarang