APA menyebut ekspresi kemarahan secara asertif—jelas, langsung, tetapi tetap menghormati orang lain—sebagai cara yang lebih sehat dibanding meluapkannya secara agresif.
Baca Juga: Barter Skill Antar Ortu: Saat Jagain Anak Bisa Dibayar dengan Waktu, Bukan Uang
Jadi, Haruskah Kita Lebih Sering Marah?
Bukan begitu. Artikel ini bukan ajakan untuk gampang meledak. Marah terus-menerus, menyimpan dendam, atau kehilangan kendali justru dapat mengganggu hubungan dan kesehatan.
Yang perlu dibongkar adalah anggapan bahwa diam selalu berarti sehat dan marah selalu berarti buruk.
Daripada berkata “aku nggak apa-apa” ketika sebenarnya terluka, seseorang bisa belajar mengatakan, “Aku kurang nyaman dengan perlakuan itu. Kita bisa membicarakannya?”
Itu bukan drama. Bukan juga kurang sabar.
Itu namanya mengenali emosi, menetapkan batas, lalu menyampaikannya tanpa menyakiti orang lain.
Dan untuk kesehatan mental, kemampuan seperti itu jauh lebih berguna daripada sekadar terlihat tenang setiap saat.***
Artikel Terkait
Download GTA 5 PPSSPP ISO untuk Android: Fitur, Gameplay, dan Cara Install Terbaru
Download Minecraft 26.44 untuk Android dan PC: Cara Update Terbaru dan Perbaikan Bug
Demo 27 Agustus Memanas: RUU Perampasan Aset Jadi Tuntutan, Siapa Saja yang Turun ke Jalan?
Panas Belum Pergi, Polda Sumsel Gelar Sholat Istisqo: Ada Apa dengan Hotspot Karhutla?
Barter Skill Antar Ortu: Saat Jagain Anak Bisa Dibayar dengan Waktu, Bukan Uang
Merasa Sudah Kelas Menengah? Data BPS Bisa Bikin Gen Z Melihat Kondisi Keuangan dengan Cara Berbeda
Pembaruan Minecraft Bedrock Edition 26.44: Hotfix dan Perbaikan Bug