Jelang Jumenengan Pakubuwono XIV, Ini Deretan Kontroversi Gusti Purbaya

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Jumat, 14 November 2025 | 16:05 WIB
Jelang Jumenengan Pakubuwono XIV, Ini Deretan Kontroversi Gusti Purbaya. (Instagram @kraton_solo)
Jelang Jumenengan Pakubuwono XIV, Ini Deretan Kontroversi Gusti Purbaya. (Instagram @kraton_solo)

TITIKTEMU.CO - Keraton Surakarta tengah memasuki fase penting suksesi kepemimpinan, yaitu penobatan KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram atau Gusti Purbaya sebagai Paku Buwono XIV.

Namun di balik rencana pelantikan Gusti Purbaya sebagai Raja Surakarta pada Sabtu 15 November 2025,  polemik lama hingga kontroversi pribadi kembali mencuat dan memicu perdebatan luas.

Nama Gusti Purbaya sebenarnya sudah disebut sejak pemakaman ayahandanya, Pakubuwono XIII. Saat itu dia mendeklarasikan diri sebagai penerus tahta, memperkuat statusnya sebagai putra mahkota sejak 2022.

Baca Juga: Sejarah Keraton Surakarta: Jejak Kelam Penangkapan Paku Buwono VI, Melawan Belanda, Membela Diponegoro

Putra Bungsu yang Diangkat Jadi Putra Mahkota

Gusti Purbaya adalah anak bungsu almarhum Pakubuwono XIII dari permaisuri. Dua tahun sebelum wafat, sang ayah menetapkan sebagai putra mahkota.

Penunjukan ini cukup mengejutkan karena PB XIII memiliki dua putra laki-laki, termasuk KGPH Mangkubumi, putera tertua dari istri kedua.

Meski demikian, keputusan raja saat itu menjadi dasar kuat bagi Gusti Purbaya untuk naik takhta. Namun suksesi Keraton Surakarta tidak pernah sederhana. Polemik internal kembali mengiringi suksesi kali ini.

Baca Juga: Kisruh Takhta PB XIII: Hangabehi Mendadak Dinobatkan, Tedjowulan Kaget, Purboyo Kecewa?

Kontroversi Putra Mahkota

Gusti Purbaya tak lepas dari kontroversi. Salah satu kontroversi sempat yang menghebohkan adalah ketia dia mengunggah tulisan “Keraton Surakarta nyesel gabung Republik Indonesia” di Instagram Story akun @kgpaa_hamangkunegoro.

Unggahan itu kemudian tersebar luas setelah dibagikan beberapa akun X (Twitter), termasuk @helmi_stbd.

Meski menimbulkan perdebatan tajam, pihak keraton melalui Pengageng Sasana Wilapa, KPAH Dany Nur Adiningrat, menjelaskan bahwa unggahan itu tidak perlu ditafsirkan sebagai sikap anti-NKRI.

Menurutnya, itu adalah kritik keras yang disampaikan secara satire oleh seorang anak muda yang prihatin terhadap situasi bangsa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X