Martha sudah ikut berperang pada usia 17 tahun. Dia bahkan memimpin pertempuran di pulau Saparua. Richemont, pimpinan perang Belanda, gugur.
Kapitan Paulus Tiahahu tertangkap dan diijatuhi hukuman mati. Martha Christina meninggal 2 Januari 1818.
Baca Juga: Dear Gaes, Ini 10 Link untuk Twibbon Hari Kesaktian Pancasila
Pada 20 Mei 1969, perempuan pejuang hebat itu di anugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Nama asli Nyi Ageng Serang adalah Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Lahir di Serang tahun 1752.
Dia bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Dia merupakan penasihat siasat perang dalam Perang Diponegoro atau Perang Jawa 1825-1830.
Padahal, pada awal Perang Diponegoro tahun1825 usianya sudah 73 tahun. Dia memimpin pasukan dari atas tandu.
Baca Juga: Diponegoro, Pangeran yang Membuat Belanda Bangkrut
Nyi Ageng Serang merupakan keturunan dari Sunan Kalijaga, yang juga juga memiliki keturunan seorang pahlawan nasional, Ki Hajar Dewantara.
Nyi Ageng Serang beberapakali ditangkap dan dibebaskan Belanda. Dia meninggal dunia pada 1828 karena sakit.
Nyi Ageng Serang diberi gelar Pahlawan Nasional pada 13 Desember 1974. Namanya juga diabadikan untuk gedung Dinas Kebudayaan dan Permuseuman di Jakarta Selatan.
Baca Juga: Jangan Salah, Ini Beda Hari Lahir Pancasila dan Hari Kesaktian Pancasila
7. HR Rasuda Said
Artikel Terkait
Perjanjian Salatiga, Akhir Perlawanan Pangeran Sambernyawa
Kisah Cinta Soekarno, dari Oetari hingga Ratna Sari Dewi
ROKOK KLOBOT DAN HARGA DIRI BANGSA
Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan