Putus sekolah, RA Kartini belajar sendiri dan kemudian mengajar perempuan-perempuan pribumi membaca dan menulis.
Surat-suratnya yang ditulis untuk teman-temannya di Belanda dikumpulkan oleh Mr JH Abendanon, dan diterbitkan pada tahun 1911.
Judulnya Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. RA Kartini wafat 17 September 1904. Pada 2 Mei 1962 mendapat gelar Pahlawan Nasional.
Baca Juga: Peringatan Hari Pahlawan 2021, Berikut Logo dan Maknanya
3. Raden Dewi Sartika
Raden Dewi Sartika Dewi Sartika lahir dari keluarga bangsawan Sunda. Ayahnya Raden Somanagara dan ibunya Nyi Raden Ayu Rajapermas.
Kedua orangtuanya adalah pejuang yang menentang pemerintah Hindia Belanda sehingga diasingkan ke Ternate.
Dewi Sartika kemudian diasuh pamannya, Aria. Dia banyak mendapat ilmu adat dan budaya Sunda dan budaya Barat.
Baca Juga: Isu TNI Disusupi PKI, BEM PTAI : Pernyataan Ngawur dan Tidak Jelas.
Sejak kecil Dewi Sartika punya minat mengajar. Pada 6 Januari 1904 dia mendirikan Sekolah Istri. Materinya baca tulis, berhitung, menjahit, dan agama.
Sekolahnya berkembang pesat. Pada 1912 Sekolah Isteri berjumlah sembilan sekolah. Mereka kemudian mendirikan organisasi Keutamaan Isteri pada 1913.
Tujuannya menyatukan sistem pembelajaran dari sekolah-sekolah yang dibangun Dewi Sartika. Pada 1929, Sekolah Istri berubah menjadi Sekolah Raden Dewi.
Baca Juga: Tragedi G30S/PKI, Kisah Penculikan dan Pembunuhan 7 Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya
Saat agresi Militer Belanda, dia ikut berjuang melawan Belanda. Dewi Sartika wafat 11 September 1947.
Artikel Terkait
Perjanjian Salatiga, Akhir Perlawanan Pangeran Sambernyawa
Kisah Cinta Soekarno, dari Oetari hingga Ratna Sari Dewi
ROKOK KLOBOT DAN HARGA DIRI BANGSA
Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan