Perjanjian Salatiga, Akhir Perlawanan Pangeran Sambernyawa

photo author
Ganug Nugroho Adi, TitikTemu.co
- Jumat, 13 Agustus 2021 | 18:04 WIB
Lukisan Perang Jawa  (Wikipedia)
Lukisan Perang Jawa (Wikipedia)

TITIKTEMU.CO

Perjanjan Salatiga pada 1757 mengakhiri perjuangan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa yang kelak menjadi Mangkunegara I. Perjanjian di Pakuwon, Salatiga, itu tidak lepas dari Perjanjian Giyanti yang membelah Mataram menjadi duapada 1755.

Perjanjian Giyanti memang tidak menyurutkan perlawanan Raden Mas Said terhadap Belanda. Selepas pembagian dua wilayah kerajaan; Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, putra Arya Mangkunegara itu sendirian melakukan serangan demi serangan.

Sejak 1741, di bawah Panji-panji Sambernyawa, Raden Mas Said mengobarkan perlawanan terhadap Belanda selama 16 tahun. Pada periode perang pertama (1741-1742), Raden Mas Said bergabung dengan Sunan Kuning di Randu Lawang.

Baca Juga: Raja Solo KGPAA Mangkunegara IX Wafat

Selama sembilan tahun periode berikutnya (1743-1752), Pangeran Sambernyawa bergabung dengan Pangeran Mangkubumi melawan Paku Buwono II dan Belanda. Sampai akhirnya Pangeran Sambernyawa tahu bahwa kongsi yang juga mertuanya sendiri itu berkhianat.

Raden Mas Said pada akhirnya berjuang sendirian melawan tiga musuh besar: VOC, Sultan Hamengku Buwana I, dan Pakubuwana III. Itulah periode ketiga dari pertempurannya selama lima tahun mulai 1752-1757.

Bagi Pakubuwono III, Hamengkubuwono I, dan VOC, Raden Mas Said adalah duri dalam daging. Sepak-terjangnya selalu merepotkan musuh-musuhnya, VOC. Tahun 1756 misalnya, di perkampungan kecil hutan Sito Kepyak, Rembang, Jawa Tengah, pasukan Pangeran Sambernyawa membabat habis tentara VOC.

Babad Lelampahan, seperti dikutip Soerjo Soedibjo Mangkoehadiningrat dalam buku Sambernyawa Menggugat Indonesia, menyebut pasukan Sambernyawa menewaskan 600 orang tentara musuh.

Baca Juga: Raja Modern, Ini Profil Mangkunegara IX

Masih menurut buku itu, Sang Pangeran bahkan berhasil menewaskan Komandan Detasemen Kompeni Belanda, Kapten Van Den Pol dengan pedangnya. Selain itu, pasukannya juga berhasil membawa pampasan perang berupa mesiu, 140 pedang, 160 karabin, 130 pistol, serta 120 ekor kuda.

Pada tahun 1757, pasukan Raden Mas Said menyerbu Benteng Vredeburg Yogyakarta, dan berhasil memukul mundur Hamengku Buwono I dan VOC. Peristiwa itu dipicu oleh pembakaran dan penjarahan harta warga desa oleh VOC yang kaut karena tidak juga berhasil meringkus Pangeran Sambernyawa.

Pangeran yang murka menyerang pasukan VOC dan Hamengku Buwono I  setelah sebelumnya memenggal kepala Patih Mataram, Joyosudirgo. Pasukannya merangsek  mendekat ke Keraton Yogyakarta setelah sebelumnya menggempur Benteng Vredeburg.

Pertempuran yang berlangsung sehari penuh membuat Sultan Hamengku Buwono I murka. Ia menawarkan hadiah 500 real, dan kedudukan bagi siapa saja yang berhasil menangkap Pangeran sambernyawa, hidup atau mati. Hadiah dinaikkan menjadi 1.000 real, namun upaya penanghapan terhadap Pangeran Sambernyawa tetap gagal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ganug Nugroho Adi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X