Agustus 1945 membawa euforia kemerdekaan sekaligus kekacauan sosial. Surakarta menjadi salah satu wilayah paling panas, berbagai laskar rakyat bermunculan.
Termasuk barisan Banteng di bawah komando dokter Muwardi. Laskar-laskar inilah yang kemudian menggerus wibawa kesunanan.
Pakubuwono XII memang menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia. Namun, sikapnya tidak mampu meredakan gejolak anti-swapraja.
Para pemuda revolusioner memandang struktur feodal sebagai warisan kolonial yang harus dihapus.
Ben Anderson menyebut bahwa raja muda itu sempat keluar istana pada 13 Oktober 1945, tampak gugup dan enggan berbicara dengan perwira Inggris yang ditemuinya.
Dia ketakutan dianggap dekat dengan Sekutu, yang saat itu menjadi musuh rakyat. Saat itu, dia adalah simbol kerajaan yang terseret arus tanpa kendali.
Daerah Istimewa Surakarta yang Berusia Pendek
Di tengah situasi genting, pemerintah Republik membentuk Daerah Istimewa Surakarta (DIS) akhir 1945, terdiri dari Kesunanan dan Mangkunegaran.
Konsep ini mirip dengan keistimewaan Yogyakarta. Bedanya, DIS berdiri di atas dasar yang rapuh.
Menurut Paul Stage dan M.C. Ricklefs, Pakubuwono XII dan Mangkunegara VIII nyaris tidak memberikan respons berarti terhadap revolusi.
Ketidakhadiran politik elite swapraja membuat laskar rakyat muncul sebagai kekuatan yang lebih dominan.
Dalam catatan Ari Dwipayana, sampai 1946 prajurit yang loyal pada Pakubuwono XII hanya 200 orang, itu pun lebih banyak mengurus agama. Tanpa otoritas nyata, keistimewaan Surakarta hanya tinggal nama.
Baca Juga: Sejarah Keraton Surakarta, Paku Buwana III: Raja yang Berkuasa di Bawah Bayang-bayang Belanda
Penculikan Pertama: Tekanan Memuncak
Pada 17 Oktober 1945, Patih Sosrodiningrat diculik dan dibunuh Barisan Banteng. Tragedi ini mempertebal gelombang anti-swapraja.
Artikel Terkait
Perjanjian Salatiga, Akhir Perlawanan Pangeran Sambernyawa
Amangkurat I, Pembantaian demi Pembantaian di Mataram
Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III
Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan
Raja Surakarta Paku Buwono XIII, 21 Tahun Bertahta yang Penuh Konflik