Lemahnya Kekuasaan Pakubuwono XII, Penculikan, dan Berakhirnya Daerah Istimewa Surakarta

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Senin, 1 Desember 2025 | 09:05 WIB
Lemahnya Kekuasasaan Pakubuwono XII, Penculikan, dan Berakhirnya Daerah Istimewa Surakarta. (TROPENMUSEUM)
Lemahnya Kekuasasaan Pakubuwono XII, Penculikan, dan Berakhirnya Daerah Istimewa Surakarta. (TROPENMUSEUM)

Agustus 1945 membawa euforia kemerdekaan sekaligus kekacauan sosial. Surakarta menjadi salah satu wilayah paling panas, berbagai laskar rakyat bermunculan.

Termasuk barisan Banteng di bawah komando dokter Muwardi. Laskar-laskar inilah yang kemudian menggerus wibawa kesunanan.

Pakubuwono XII memang menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia. Namun, sikapnya tidak mampu meredakan gejolak anti-swapraja.

Para pemuda revolusioner memandang struktur feodal sebagai warisan kolonial yang harus dihapus.

Ben Anderson menyebut bahwa raja muda itu sempat keluar istana pada 13 Oktober 1945, tampak gugup dan enggan berbicara dengan perwira Inggris yang ditemuinya.

Dia ketakutan dianggap dekat dengan Sekutu, yang saat itu menjadi musuh rakyat. Saat itu, dia adalah simbol kerajaan yang terseret arus tanpa kendali.

Daerah Istimewa Surakarta yang Berusia Pendek  

Di tengah situasi genting, pemerintah Republik membentuk Daerah Istimewa Surakarta (DIS) akhir 1945, terdiri dari Kesunanan dan Mangkunegaran.

Konsep ini mirip dengan keistimewaan Yogyakarta. Bedanya, DIS berdiri di atas dasar yang rapuh.

Menurut Paul Stage dan M.C. Ricklefs, Pakubuwono XII dan Mangkunegara VIII nyaris tidak memberikan respons berarti terhadap revolusi.

Ketidakhadiran politik elite swapraja membuat laskar rakyat muncul sebagai kekuatan yang lebih dominan.

Dalam catatan Ari Dwipayana, sampai 1946 prajurit yang loyal pada Pakubuwono XII hanya 200 orang, itu pun lebih banyak mengurus agama. Tanpa otoritas nyata, keistimewaan Surakarta hanya tinggal nama.

Baca Juga: Sejarah Keraton Surakarta, Paku Buwana III: Raja yang Berkuasa di Bawah Bayang-bayang Belanda

Penculikan Pertama: Tekanan Memuncak

Pada 17 Oktober 1945, Patih Sosrodiningrat diculik dan dibunuh Barisan Banteng. Tragedi ini mempertebal gelombang anti-swapraja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X