Namun, puncak tekanan terjadi pada Januari 1946, ketika Barisan Banteng menculik Pakubuwono XII, ibunya, dan Soerjohamidjojo.
Menurut laporan Kedaulatan Rakjat, yang dikutip Julianto Ibrahim, pembebasan mereka hanya terjadi setelah ketiganya dipaksa membuat pernyataan penyesalan.
Sang raja pun harus menerima panggilan “Bung”, sapaan egaliter khas revolusi yang menghapus jarak antara pemimpin dan rakyat.
Peristiwa ini menggerus habis wibawa kesunanan. Pakubuwono XII berubah dari simbol kebangsawanan menjadi tawanan politik.
Baca Juga: Kisah Kelam Tumenggung Endranata, Pengkhianat Mataram yang Jasadnya Dikubur Terpisah di Imogiri
Penculikan Kedua dan Akhir DIS
Drama di Keraton Surakarta belum berakhir. Pada 19 April 1946, sekitar enam puluh orang dari laskar dan partai politik menerobos keraton.
Tuntutan mereka satu dan tegas: Pakubuwono XII harus menyerahkan kekuasaan kepada rakyat dan menghapus Daerah Istimewa Surakarta.
Dalam kondisi terpojok dan tanpa dukungan pasukan, dia tidak punya banyak pilihan. Pada 30 April 1946, Pakubuwono XII menandatangani pembubaran DIS.
Sang adipati Mangkunegaran pun mengikuti, mengumumkan bahwa wilayahnya kembali menjadi bagian dari struktur pemerintahan republik.
Gelombang anti-swapraja lalu memuncak. Pada Mei 1946, rapat umum menolak monarki digelar di berbagai kabupaten: Boyolali, Klaten, Sukoharjo, hingga Sragen.
Empat kabupaten dari wilayah swapraja akhirnya memutuskan hubungan formal dengan Kesunanan Surakarta. Pada 23 Mei 1946, DIS resmi hilang dari peta politik Indonesia.
Sebagai gantinya, pemerintah Republik membentuk Pemerintah Rakyat dan Tentara oleh Kolonel Sutarto, menandai berakhirnya peran politik kesunanan.
Baca Juga: Mengenal Empat Raja Jawa: Ini Beda Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara
Mengapa Yogyakarta Bertahan, Surakarta Hilang?
Artikel Terkait
Perjanjian Salatiga, Akhir Perlawanan Pangeran Sambernyawa
Amangkurat I, Pembantaian demi Pembantaian di Mataram
Dendam Lama dan Tahta Singkat Amangkurat III
Paku Buwono VI, Raja Surakarta di Simpang Jalan
Raja Surakarta Paku Buwono XIII, 21 Tahun Bertahta yang Penuh Konflik