Lemahnya Kekuasaan Pakubuwono XII, Penculikan, dan Berakhirnya Daerah Istimewa Surakarta

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Senin, 1 Desember 2025 | 09:05 WIB
Lemahnya Kekuasasaan Pakubuwono XII, Penculikan, dan Berakhirnya Daerah Istimewa Surakarta. (TROPENMUSEUM)
Lemahnya Kekuasasaan Pakubuwono XII, Penculikan, dan Berakhirnya Daerah Istimewa Surakarta. (TROPENMUSEUM)

Pertanyaan ini terus menarik perhatian sejarawan. Dua faktor kunci yang paling sering dikemukakan:

Peran aktif Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII dalam mendukung republik.

Yogyakarta menjadi ibu kota RI sejak 1946 dan bantalan stabil politik nasional. Sementara Surakarta dilanda gejolak sosial dan pengaruh milisi yang sangat kuat.

Kekokohan wibawa monarki hancur di Surakarta karena tekanan laskar, kelemahan internal keraton, dan minimnya kepemimpinan politik dari raja.

Kesultanan Yogyakarta bertahan sebagai daerah istimewa hingga kini, sementara Kesunanan Surakarta menyisakan peran kultural belaka.

Baca Juga: Perjanjian Giyanti Membelah Kerajaan Mataram Jadi Dua, Kisah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta

Akhir Sebuah Takhta dan Lahirnya Realitas Baru

Setelah DIS bubar, Pakubuwono XII menjalani sisa hidup sebagai pemimpin kultural. Pemerintah Indonesia memberinya pangkat tituler tanpa kekuasaan politik.

Sang Raja wafat pada 11 Juni 2004, raja yang masa mudanya tergerus badai revolusi dan kehilangan kekuasaan sebelum sempat menggunakannya.

Dan sejak itu, Surakarta bukan lagi kerajaan berdaulat, melainkan kota budaya yang mewarisi tradisi, tapi tidak lagi menguasai politik.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X