Amangkurat I, Pembantaian demi Pembantaian di Mataram

photo author
Ganug Nugroho Adi, TitikTemu.co
- Senin, 16 Agustus 2021 | 21:13 WIB
Amanngkurat I (Wikipedia)
Amanngkurat I (Wikipedia)

TITIKTEMU.CO

Raja Mataram Islam, Amangkurat I atau Amangkurat Agung (1646-1677), tidak bisa tidur. Penerus Sultan Agung itu mondar-mandir di pendapa Keraton Plered. Ia sedang berpikir keras mencari cara menghabisi para pengkhianat.  Dua hari sebelumnya, adiknya sendiri, Pangeran Alit, menyerang istana, mencoba mendongkelnya dari tahta.

Ketika itu, baru dua tahun penguasa Mataram yang juga disebut Amangkurat I itu menjadi raja, menggantikan singgasana ayahnya, Sultan Agung, yang wafat. Namun, dalam waktu sesingkat itu pemerintahannya sudah dipenuhi dengan intrik dan drama politik, lengkap dengan pembantaian yang mencekam. Pengkhianatan, pembunuhan, dan pemberontakan terus-menerus terjadi.

Tumenggung Wiraguna, pengikut setia Sultan Agung, menjadi korban pertama pembunuhannya. Amangkurat mengirim Wiraguna untuk menumpas pasukan Bali yang mencoba menguasasi wilayah Mataram di Blambangan. Di tengah pertempuran itulah Sang Tumenggung dihabisi, termasuk semua pengikutnya.

Semuanya berawal dari dendam lama. Saat masih sebagai putra mahkota, Amangkurat pernah terlibat skandal dengan istri Wiraguna. Sang Tumenggung melaporkan peristiwa itu kepada raja, Sultan Agung. Akibatnya Amangkurat dimarahi habis-habisan oleh Sultan Agung.

Mendengar kabar teman seperjuanganya dibantai, Pangeran Alit yang tak lain adik Amagkurat Agung,  tidak bisa diam. Hingga akhirnya ia meminta bantuan para ulama untuk menggempur sang kakak.

Dalam sebuah pertempuran yang tak seimbang, pasukan Pangeran Alit berhasil dipukul mundur. Amangkurat hanya membiarkan saja ketika para pengikutnya menghabisi adiknya.

Pembantaian Ulama

Pada tahun 1659, Amangkurat kembali melakukan pembantaian. Kali ini, korbannya adalah mertuanya sendiri, Pangeran Pekik, berikut keluarganya, dengan tuduhan makar. Puncaknya adalah pembantaian yang dilakukan terhadap ribuan ulama di halaman istana.

Sejarawan HJ de Graaf dalam De Regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, vorst van Mataram, 1646-1677 (1961),  menuliskan bahwa sang raja berpesan agar seluruh pemuka agama di Mataram dihabisi.

“Jangan seorang pun dari pemuka-pemuka agama dalam seluruh yurisdiksi Mataram luput dari pembunuhan” (hlm. 38).

Tidak ada catatan resmi bagaimana pembantaian itu dilakukan. Satu-satunya sumber yang bisa dirujuk adalah catatan Rijcklofs van Goen, pejabat VOC yang saat itu berdinas di Mataram, yang kemudian diterbitkan dalam De vijf gezantschapsreizen naar het hof van Mataram, 1648-1654 (1956).

“Pembantaian berlangsung sangat cepat. Dalam waktu kurang dari 30 menit, hari itu di suatu siang yang terik tahun 1648, sekitar 6000 ulama dan keluarga mereka tewas dibantai dengan keji oleh raja mereka sendiri.”

Ilustrasi Raja Mataram Amangkurat I
Ilustrasi Raja Mataram Amangkurat I (Wikipedia)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ganug Nugroho Adi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X