Sejumlah laporan, termasuk catatan Djatikusumo dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, menyebut bahwa Sang Raja berulang kali mengalihkan pasukannya untuk membantu perjuangan Diponegoro.
Ada pula kisah dramatik ketika Diponegoro menyusup ke Keraton Surakarta. Saat pasukan Belanda mengepung, kedua tokoh itu berpura-pura berduel agar penyusunan strategi mereka tidak terbongkar.
Pertemuan rahasia pun beberapa kali terjadi di hutan Krendawahana. Bahkan Paku Buwono VI memberikan beberapa pusaka keraton kepada Diponegoro, salah satunya Kyai Sandanglawe, sebagai bentuk dukungan nyata.
Baca Juga: Raja Kembar Keraton Surakarta, Dua Kubu Sama-sama Klaim Gelar Paku Buwono XIV
Intrik di Dalam Keraton
Selain menghadapi tekanan Belanda, Paku Buwono VI juga harus berhadapan dengan dinamika internal keraton. Sebagai putra dari selir, penobatannya pada 15 September 1823 memang menimbulkan polemik.
Dua permaisuri ayahnya tidak memiliki keturunan laki-laki, dan menurut aturan keraton, yang berhak naik tahta seharusnya Pangeran Purbaya, adik kandung Paku Buwono V dari permaisuri.
Namun berkat dukungan Patih Sosrodiningrat II, Raden Mas Sapardan, nama kecil Paku Buwono VI, akhirnya dinobatkan sebagai Raja Surakarta, menggantikan Paku Buwono V.
Pangeran Purbaya tidak tinggal diam. Sejak itu dia terus merongrong legitimasi. Diduga, dialah yang membocorkan informasi kepada Belanda soal Sang Raja yang diam-diam membantu perlawanan Diponegoro.
Sebagai ganjaran, Belanda kemudian mengangkat Pangeran Purbaya sebagai Paku Buwono VII setelah takhta dilepaskan dari tangan keponakannya.
Misteri Akhir Hidup Sang Raja
Setelah ditangkap di Parangtritis, Paku Buwono VI dibawa ke Semarang sebelum akhirnya diadili dan diasingkan. Pada 8 Juli 1830, dia dibawa dengan kapal Roepel menuju Ambon.
Tempat inilah yang menjadi saksi bisu 19 tahun terakhir hidupnya. Meski, di tanah buangan Batu Gajah, dia masih berusaha melawan secara halus.
Dia menulis ulang kisah “Babad Jaka Tingkir” dan sempat melarikan diri untuk bergabung dengan pasukan Sultan Ternate pada 3 Juni 1849. Namun, upaya itu gagal. Selang sehari, tepatnya pada 2 Juni 1849, Sang Raja ditemukan wafat.
Artikel Terkait
Paku Buwono XIII Wafat, Ini Profil Putra Mahkota Gusti Purbaya, Calon Penerus Tahta Keraton Surakarta
Perjanjian Giyanti Membelah Kerajaan Mataram Jadi Dua, Kisah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta
Begini Prosesi Pemakaman Paku Buwono XIII dari Keraton Surakarta Menuju Imogiri
Sinuwun PB XIII Wafat, Akankah Konflik Suksesi Keraton Surakarta Muncul Kembali? Seno Adjie: Jaga Suasana Kondusif, Pihak Luar Janga Ikut Campur
Ribuan Warga Lepas Jenazah Paku Buwono XIII ke Imogiri, Tedjowulan Kawal Keraton Surakarta hingga Penobatan Raja Baru