Sejarah Keraton Surakarta: Jejak Kelam Penangkapan Paku Buwono VI, Melawan Belanda, Membela Diponegoro

photo author
Ken Maesa Pamenang, TitikTemu.co
- Jumat, 14 November 2025 | 15:05 WIB
Sejarah Keraton Surakarta: Jejak Kelam Penangkapan Paku Buwono VI, Melawan Belanda, Membela Diponegoro. (Wikipedia)
Sejarah Keraton Surakarta: Jejak Kelam Penangkapan Paku Buwono VI, Melawan Belanda, Membela Diponegoro. (Wikipedia)

Sejumlah laporan, termasuk catatan Djatikusumo dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, menyebut bahwa Sang Raja berulang kali mengalihkan pasukannya untuk membantu perjuangan Diponegoro.

Ada pula kisah dramatik ketika Diponegoro menyusup ke Keraton Surakarta. Saat pasukan Belanda mengepung, kedua tokoh itu berpura-pura berduel agar penyusunan strategi mereka tidak terbongkar.

Pertemuan rahasia pun beberapa kali terjadi di hutan Krendawahana. Bahkan Paku Buwono VI memberikan beberapa pusaka keraton kepada Diponegoro, salah satunya Kyai Sandanglawe, sebagai bentuk dukungan nyata.

Baca Juga: Raja Kembar Keraton Surakarta, Dua Kubu Sama-sama Klaim Gelar Paku Buwono XIV

Intrik di Dalam Keraton

Selain menghadapi tekanan Belanda, Paku Buwono VI juga harus berhadapan dengan dinamika internal keraton. Sebagai putra dari selir, penobatannya pada 15 September 1823 memang menimbulkan polemik.

Dua permaisuri ayahnya tidak memiliki keturunan laki-laki, dan menurut aturan keraton, yang berhak naik tahta seharusnya Pangeran Purbaya, adik kandung Paku Buwono V dari permaisuri.

Namun berkat dukungan Patih Sosrodiningrat II, Raden Mas Sapardan, nama kecil Paku Buwono VI, akhirnya dinobatkan sebagai Raja Surakarta, menggantikan Paku Buwono V.

Pangeran Purbaya tidak tinggal diam. Sejak itu dia terus merongrong legitimasi. Diduga, dialah yang membocorkan informasi kepada Belanda soal Sang Raja yang diam-diam membantu perlawanan Diponegoro.

Sebagai ganjaran, Belanda kemudian mengangkat Pangeran Purbaya sebagai Paku Buwono VII setelah takhta dilepaskan dari tangan keponakannya.

Baca Juga: Suksesi Keraton Surakarta Memanas! Gusti Mangkubumi Ditetapkan sebagai Paku Buwono XIV, Tidak Akui Deklarasi Gusti Purbaya

Misteri Akhir Hidup Sang Raja

Setelah ditangkap di Parangtritis, Paku Buwono VI dibawa ke Semarang sebelum akhirnya diadili dan diasingkan. Pada 8 Juli 1830, dia dibawa dengan kapal Roepel menuju Ambon.

Tempat inilah yang menjadi saksi bisu 19 tahun terakhir hidupnya. Meski, di tanah buangan Batu Gajah, dia masih berusaha melawan secara halus.

Dia menulis ulang kisah “Babad Jaka Tingkir” dan sempat melarikan diri untuk bergabung dengan pasukan Sultan Ternate pada 3 Juni 1849. Namun, upaya itu gagal. Selang sehari, tepatnya pada 2 Juni 1849, Sang Raja ditemukan wafat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ken Maesa Pamenang

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Arti Mimpi Ular Kuning dan Putih Apa?

Selasa, 26 Agustus 2025 | 11:35 WIB
X