Ketika Mantan PETI Bersama-sama Membangun Pongkor

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 1 Maret 2026 | 22:33 WIB
Hasil kerja bersama masyarakat Pongkor
Hasil kerja bersama masyarakat Pongkor

TITIKTEMU.CO, Bogor – Penambang Tanpa Izin (PETI) menjadi permasalahan di banyak wilayah tambang, praktik penambangan ilegal yang tidak hanya menimbulkan keresahan lingkungan dan sosial, tetapi tak jarang membahayakan nyawa. Tak terkecuali di wilayah Pongkor, Kabupaten Bogor, isu PETI bergulir sejak lama.

Namun, seiring waktu, kesadaran baru tumbuh. Tidak sedikit mantan PETI yang mulai menyadari banyaknya sisiko yang muncul dari pekerjaan yang dilakukan. Di berbagai sudut desa sekitar Pongkor, muncul kegelisahan yang sama, keinginan untuk menemukan penghidupan yang lebih aman dan berkelanjutan.

Baca Juga: Alumni LPDP Mengaku Sulit Cari Kerja, Begini Kata Dirut LPDP

 

Kampung Cisangku, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, menjadi salah satu cermin perubahan tersebut. Kawasan yang berada dalam bentang Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini pernah menghadapi tekanan sosial ekonomi yang kuat.

Sebagian warga kala itu menggantungkan hidup pada aktivitas yang beririsan dengan pembalakan liar dan penambangan ilegal. Hutan menjadi ruang yang rentan, sementara masyarakat berada dalam situasi yang serba terbatas.

Baca Juga: 5 Film Bioskop Terbaru Maret 2026, dari Animasi Walt Disney hingga Horor Lokal

Di tengah situasi itulah Hendrik mulai bergerak dengan niat untuk kembali membangun desa agar kembali memberikan manfaat bagi masyarakatnya.

“Di Pongkor dulu isu penambang liar itu seperti hal yang biasa terdengar. Banyak orang melihatnya sebagai pilihan hidup, tapi semakin dijalani, saya merasa itu bukan sesuatu yang baik untuk jangka panjang. Risiko besar, hasil tidak pasti, hidup juga penuh rasa khawatir,” ujar Hendrik.

Baca Juga: Kapan Waktu Membayar Zakat Fitrah? Ini Penjelasan Lengkap, Niat dan Besarannya di 2026

Kesadaran itu menjadi titik balik. Bersama masyarakat, Hendrik terlibat dalam penguatan Kelompok Model Kampung Konservasi Cisangku, sebuah ruang kolektif yang perlahan menggeser orientasi dari eksploitasi menuju pelestarian.

Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Terbunuh dalam Serangan AS-Israel, Negara Umumkan 40 Hari Berkabung Nasional

Perubahan tersebut kemudian menemukan momentumnya melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Antam (Persero) Tbk UBPE Pongkor.

Melalui Program Pepeling Cisangku, masyarakat diperkenalkan pada alternatif mata pencaharian yang bertumpu pada konservasi dan pemulihan lingkungan. Persemaian bibit tanaman endemik, pengembangan pupuk bokashi, hingga inovasi pupuk hayati mikoriza menjadi bagian dari ekosistem baru yang dibangun bersama.

Lahan yang dahulu menyimpan jejak aktivitas PETI kini menampilkan pemandangan berbeda. Bibit-bibit tanaman tumbuh teratur dalam polybag. Aktivitas yang berjalan bukan lagi menggali, melainkan menanam. Bagi masyarakat, perubahan itu menghadirkan stabilitas baru sekaligus rasa aman yang sebelumnya jarang dirasakan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi TITIKTEMU

Sumber: Promedia

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X