TITIKTEMU.CO, Bogor – Penambang Tanpa Izin (PETI) menjadi permasalahan di banyak wilayah tambang, praktik penambangan ilegal yang tidak hanya menimbulkan keresahan lingkungan dan sosial, tetapi tak jarang membahayakan nyawa. Tak terkecuali di wilayah Pongkor, Kabupaten Bogor, isu PETI bergulir sejak lama.
Namun, seiring waktu, kesadaran baru tumbuh. Tidak sedikit mantan PETI yang mulai menyadari banyaknya sisiko yang muncul dari pekerjaan yang dilakukan. Di berbagai sudut desa sekitar Pongkor, muncul kegelisahan yang sama, keinginan untuk menemukan penghidupan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Baca Juga: Alumni LPDP Mengaku Sulit Cari Kerja, Begini Kata Dirut LPDP
Kampung Cisangku, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, menjadi salah satu cermin perubahan tersebut. Kawasan yang berada dalam bentang Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini pernah menghadapi tekanan sosial ekonomi yang kuat.
Sebagian warga kala itu menggantungkan hidup pada aktivitas yang beririsan dengan pembalakan liar dan penambangan ilegal. Hutan menjadi ruang yang rentan, sementara masyarakat berada dalam situasi yang serba terbatas.
Baca Juga: 5 Film Bioskop Terbaru Maret 2026, dari Animasi Walt Disney hingga Horor Lokal
Di tengah situasi itulah Hendrik mulai bergerak dengan niat untuk kembali membangun desa agar kembali memberikan manfaat bagi masyarakatnya.
“Di Pongkor dulu isu penambang liar itu seperti hal yang biasa terdengar. Banyak orang melihatnya sebagai pilihan hidup, tapi semakin dijalani, saya merasa itu bukan sesuatu yang baik untuk jangka panjang. Risiko besar, hasil tidak pasti, hidup juga penuh rasa khawatir,” ujar Hendrik.
Baca Juga: Kapan Waktu Membayar Zakat Fitrah? Ini Penjelasan Lengkap, Niat dan Besarannya di 2026
Kesadaran itu menjadi titik balik. Bersama masyarakat, Hendrik terlibat dalam penguatan Kelompok Model Kampung Konservasi Cisangku, sebuah ruang kolektif yang perlahan menggeser orientasi dari eksploitasi menuju pelestarian.
Perubahan tersebut kemudian menemukan momentumnya melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Antam (Persero) Tbk UBPE Pongkor.
Melalui Program Pepeling Cisangku, masyarakat diperkenalkan pada alternatif mata pencaharian yang bertumpu pada konservasi dan pemulihan lingkungan. Persemaian bibit tanaman endemik, pengembangan pupuk bokashi, hingga inovasi pupuk hayati mikoriza menjadi bagian dari ekosistem baru yang dibangun bersama.
Lahan yang dahulu menyimpan jejak aktivitas PETI kini menampilkan pemandangan berbeda. Bibit-bibit tanaman tumbuh teratur dalam polybag. Aktivitas yang berjalan bukan lagi menggali, melainkan menanam. Bagi masyarakat, perubahan itu menghadirkan stabilitas baru sekaligus rasa aman yang sebelumnya jarang dirasakan.
Artikel Terkait
Kolaborasi ANTAM dan Masyarakat Hasilkan Model Pertanian Sirkular Terpadu untuk Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Desa
Kisah Wahyudin Sukses Mengubah Wajah Kalongliud, Sarjana Akuntansi ini Ubah Lahan Tidur Jadi Pertanian Produktif
Program Garitan Kalongliud, Strategis ANTAM Memperkuat Kesejahteran Sosial dan Ekonomi di Pongkor
10 Program Mudik Gratis Lebaran 2026 yang Masih Buka Pendaftaran, Buruan Sebelum Kuota Habis!
Jangan Lewatkan! Gerhana Bulan Total Warna Merah Darah 3 Maret 2026, Bisa Dilihat di Seluruh Indonesia
Kapan Waktu Membayar Zakat Fitrah? Ini Penjelasan Lengkap, Niat dan Besarannya di 2026
Mudik Gratis Kemenhub 2026 Dibuka! Ini Link Daftar, Rute Lengkap, dan Syarat Pesertanya