TITIKTEMU.CO, Bogor - Adalah Wahyudin, seorang pemuda dengan gelar sarjana akuntansi memutuskan kembali ke kampung halamannya di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.
Pemuda kelahiran 1988 itu justru memilih memegang cangkul dan sepatu bot.
Bukan tanpa alasan pria yang akrab disapa Kang Wahyu ini gelisah menyaksikan desanya berada dalam bayang-bayang aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Himpitan ekonomi dan rusaknya infrastruktur irigasi akibat bencana pada 2020 membuat sebagian warga nekat mencari nafkah di lubang-lubang tambang, mempertaruhkan nyawa demi penghasilan yang tak menentu.
"Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” kata Wahyu.
Baca Juga: 99 Prosen Produk AS Masuk RI Tanpa Tarif, Ancaman untuk UMKM atau Peluang Emas?
Bagi Kang Wahyu, jawaban atas krisis itu sesungguhnya berada tepat di bawah kaki mereka sendiri: tanah pertanian yang sempat ditinggalkan.
Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak,” tegas Wahyu.
Gayung bersambut pada 2022. Kegelisahannya sejalan dengan visi PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor yang menghadirkan program inovasi sosial Garitan Kalongliud.
Baca Juga: Rahmat Turun di Awal Ramadhan: 10 Hari Pertama yang Mengubah Cara Pandang Ibadah
Namun Wahyu tidak sekadar menjadi penerima manfaat. Ia memilih berdiri di garis depan, memimpin Kelompok Taruna Muda dan mengajak pemuda desa menghidupkan kembali 35 hektar lahan terlantar.
Tantangan di lapangan tak sederhana. Harga pupuk kimia melonjak, hama keong mas menyerang padi, dan pasokan air terbatas. Namun bagi Wahyu, masalah adalah ruang lahirnya inovasi. Berbekal pelatihan dari ANTAM, ia menginisiasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Beko, hasil fermentasi keong mas dan urin domba.
Langkah tersebut, ditambah pemanfaatan 25 ton limbah kotoran domba sebagai pupuk organik, berhasil memangkas biaya pupuk hingga 50 persen. Untuk menjawab krisis air, Wahyu bersama warga merakit sistem irigasi tetes sederhana yang mampu menghemat penggunaan air hingga 60 persen.
Artikel Terkait
Ubah Kesulitan Menjadi Peluang, UMKM Bumbu Kemasan Ini Diberdayakan BRI dari Usaha Rumahan
Kain Indonesia by Shifara, UMKM Binaan BRI Ini Mampu Hidupkan Nafas Wastra Nusantara Lewat Koleksi Office Wear
Syarat KUR BRI Tanpa Jaminan 2026, Proses Mudah Anti Drama, Bunga Hanya 6 Persen
NM Kitchen, Berawal dari Resep Keluarga Berhasil Naik Kelas Lewat LinkUMKM BRI
Modal Usaha Cair Cepat! KUR BRI 2026 Mulai Rp10 Juta, Ini Tabel Angsuran dan Syarat Lengkapnya
Hingga Tahun 2025 BRI Berhasil Salurkan KPR Subsidi Rp16,16 Triliun kepada 118 Ribu Debitur, Dukung Program Tiga Juta Rumah
Kisah Sukses Kenes Lalita, Berkat BRI dan LinkUMKM Berhasil Kembangkan Bisnis Busana Anak Wastra Khas Jepara
Penguatan Ekonomi Rakyat, Capaian 2025 BRI Salurkan KUR Rp178,08 T ke Sektor Produksi