Kolaborasi ANTAM dan Masyarakat  Hasilkan Model Pertanian Sirkular Terpadu untuk Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Desa

photo author
Ipiek Riyanto, TitikTemu.co
- Senin, 23 Februari 2026 | 12:54 WIB
Model Pertanian Sirkular Terpadu ANTAM untuk Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Desa (BRI)
Model Pertanian Sirkular Terpadu ANTAM untuk Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Desa (BRI)

 

TITIKTEMU.CO, Bogor - Bencana banjir dan longsor yang terjadi pada tahun 2020 menjadi titik rapuh Desa Kalongliud di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor 

Tak hanya merusak jaringan irigasi desa secara menyeluruh namun bencana alam itu membuat masyarakat tertekan secara ekonomi.

Baca Juga: Update Harga Emas Antam 23 Februari 2026 Naik Rp16.000, Tembus Rp3.028.000 per Gram

Bencana banjir dan longsor mengakibatkan sekitar 150 hektar lahan pertanian mengalami kekeringan, sementara puluhan petani dan ratusan buruh tani kehilangan stabilitas mata pencaharian mereka.

Kondisi tersebut diperberat oleh pandemi COVID-19 yang menekan aktivitas ekonomi masyarakat. Desa menghadapi risiko krisis ganda: ancaman terhadap ketahanan pangan dan tekanan ekonomi rumah tangga.

Namun dengan berjalannya waktu, sebagian lahan pertanian berangsur menjadi lahan tidur, menciptakan tantangan serius bagi keberlanjutan desa.

Baca Juga: Viral Video Alumni LPDP DS soal Kewarganegaraan Anak, LPDP Beri Klarifikasi dan Panggil Suami

Merespons kondisi tersebut, Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor ANTAM bersama masyarakat desa meluncurkan inisiatif program bernama Garitan Kalongliud.

Program ini dirancang bukan sekadar sebagai bantuan sosial, melainkan sebagai model pertanian sirkular terpadu. Pendekatan ini mengedepankan pemanfaatan lahan tidur, efisiensi sumber daya air, pengelolaan limbah, serta penguatan kelembagaan petani berbasis komunitas.

Baca Juga: S1 Unhan 2026 Masih Buka Pendaftaran hingga 28 Februari: Kuliah Gratis, Siap Cetak Letda Muda

Hasilnya sebanyak 35 hektar lahan tidur berhasil dipulihkan menjadi lahan produktif. Limbah lokal, termasuk kotoran ternak domba, diolah menjadi pupuk organik. Sekitar 25 ton limbah kotoran domba dimanfaatkan dalam sistem budidaya, sehingga mampu menekan penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen.

Dari sisi pengelolaan sumber daya air, penerapan sistem irigasi tetes membawa dampak signifikan. Teknologi ini meningkatkan efisiensi konsumsi air hingga 60 persen sebuah capaian krusial bagi wilayah yang sebelumnya mengalami tekanan sumber daya air.

Baca Juga: Panduan Tarik Saldo Rp300.000 dari FreeReels ke DANA Terbaru 2026, Apakah Benar Terbukti Membayar?

Upaya pemulihan lingkungan juga diperkuat melalui penanaman 3.000 pohon di sempadan Sungai Cinyurug, yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon sebesar 21,5 ton CO₂eq per musim tanam.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ipiek Riyanto

Sumber: BRI

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X