Kenapa Anak yang Dimanja Bisa Lebih Rentan Depresi Saat Dewasa?

photo author
Leihana, TitikTemu.co
- Senin, 27 Juli 2026 | 19:29 WIB

TITIKTEMU.CO-Anak yang selalu dituruti memang terlihat bahagia—sampai suatu hari dunia berhenti menuruti keinginannya. Di situlah pola asuh yang terlalu permisif bisa menunjukkan sisi lain yang jarang dibicarakan: anak mungkin tumbuh tanpa cukup latihan menghadapi penolakan, frustrasi, dan konsekuensi.

Bukan berarti setiap anak yang dimanja pasti mengalami depresi ketika dewasa. Depresi merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk pengalaman hidup, hubungan sosial, biologis, dan lingkungan. Namun, penelitian tentang pola asuh menunjukkan bahwa cara orang tua memberi batas, dukungan, dan ruang mandiri memang berkaitan dengan kesehatan mental anak.

Baca Juga: Kenapa Anak Muda Berbondong-bondong Pindah dari Jakarta, Bukan karena Macet?

Anak yang Dimanja dan Masalah Menghadapi Frustrasi

Bentuk “memanjakan” yang perlu diperhatikan bukan sekadar membelikan mainan atau memenuhi kebutuhan anak. Masalah bisa muncul ketika orang tua hampir selalu menghapus rasa tidak nyaman: anak menangis sedikit langsung diberi apa yang diminta, aturan dibatalkan karena takut anak marah, atau kesalahan terus dibereskan oleh orang tua.

Akibatnya, anak kehilangan kesempatan untuk belajar bahwa kecewa bukan bencana. Ia juga tidak banyak berlatih menunggu, menerima kata “tidak”, atau menyelesaikan masalah sendiri.

Padahal, kemampuan menghadapi ketidaknyamanan adalah bagian penting dari proses tumbuh dewasa.

Baca Juga: Dudung Bicara Keras soal Pencuri Ayam Tewas di Bali: Salah Tetap Salah, Tapi Nyawa Bukan Hukuman

Terlalu Sedikit Batas Bisa Membuat Dunia Terasa “Tidak Ramah”

Bayangkan anak yang terbiasa mendapatkan apa pun ketika meminta. Ketika dewasa, ia masuk sekolah, pekerjaan, atau hubungan sosial yang tidak bekerja dengan sistem tersebut.

Atasan bisa menolak idenya. Lamaran kerja bisa gagal. Teman bisa tidak setuju. Pasangan bahkan bisa mengatakan, “Tidak.”

Jika sejak kecil ia jarang berlatih menghadapi situasi semacam itu, penolakan dapat terasa jauh lebih berat. Bukan karena anak tersebut lemah, melainkan karena keterampilan regulasi emosi dan toleransi terhadap frustrasinya belum cukup terasah.

Baca Juga: Tangis Anak di Sisi Jenazah Ayah Diduga Pencuri Ayam di Bali Viral, Polisi Tetapkan Lima Tersangka Pengeroyokan

Menariknya, riset tidak mendukung gagasan bahwa pola asuh yang semakin longgar selalu lebih sehat. Sebuah tinjauan sistematis menemukan bahwa kehangatan orang tua, kontrol perilaku yang wajar, dan pemberian otonomi berkaitan dengan lebih rendahnya gejala internalisasi seperti kecemasan dan depresi pada remaja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Leihana

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X