TITIKTEMU.CO-Kalau kopi cuma soal rasa, orang mungkin tidak akan rela berdiri puluhan menit hanya untuk mendapatkan segelas minuman yang sebenarnya bisa dibuat di rumah.
Namun bagi banyak Gen Z urban, ngopi di coffee shop sudah berubah menjadi pengalaman sosial: tempat bertemu, mencari suasana, sekaligus menunjukkan selera.
Fenomena ini menarik karena secangkir kopi kini bisa membawa pesan yang lebih panjang daripada daftar bahan di dalamnya.
Kedai yang dipilih, gelas yang dibawa pulang, bahkan sudut tempat duduk bisa ikut membentuk bagaimana seseorang ingin dilihat oleh lingkungannya.
Baca Juga: Kenapa Lulusan Kampus Ternama Belum Tentu Lebih Sukses, Ini Datanya
Gen Z dan Kopi: Bukan Sekadar Minuman
Penelitian Universitas Indonesia tentang budaya ngopi Gen Z di Jakarta menunjukkan bahwa konsumsi kopi di coffee shop berkaitan dengan gaya hidup dan pembentukan identitas di lingkungan perkotaan. Artinya, aktivitas menyeruput kopi dapat menjadi bagian dari cara seseorang mengekspresikan dirinya.
Di sinilah konsep status consumption menjadi menarik. Seseorang tidak selalu membeli produk hanya karena manfaat fungsionalnya, tetapi juga karena simbol, cerita, atau status sosial yang melekat pada produk tersebut.
Kopi dengan harga lebih tinggi, kedai yang sedang viral, atau tempat dengan desain yang mudah dikenali di media sosial bisa memberikan nilai tambahan. Bukan berarti semua Gen Z membeli kopi demi pamer, tetapi pengalaman dan citra memang semakin sulit dipisahkan dari keputusan konsumsi.
Baca Juga: Demo 27 Agustus di DPR Makin Ramai, GERAM Bawa 10 Tuntutan yang Bikin Senayan Disorot
Media Sosial Ikut Memanaskan Antrean
Coba bayangkan sebuah kedai baru muncul di TikTok. Videonya ramai, interiornya menarik, menunya terlihat unik, lalu teman-teman mulai mengunggah foto dari tempat tersebut.
Efeknya bisa seperti bola salju. Penelitian terhadap Gen Z di Kintamani menemukan adanya pengaruh positif dan signifikan media sosial terhadap keputusan konsumsi di coffee shop. Dalam penelitian tersebut, media sosial bahkan menjelaskan 67,2 persen variasi keputusan konsumsi responden.
Penelitian lain pada 2026 terhadap Gen Z di Medan juga menyoroti pengaruh konten influencer dan konsep tempat yang instagramable dalam keputusan memilih coffee shop.
Baca Juga: Kenapa Orang Tua Kurang Mampu Bisa Lebih Bahagia? Ini yang Diungkap Riset
Jadi, antrean panjang terkadang justru menjadi bagian dari daya tarik. Semakin banyak orang membicarakan sebuah tempat, semakin besar rasa penasaran untuk ikut merasakan pengalaman yang sama.
Artikel Terkait
OJK Sebut Gen Z Paling Berani Ambil Risiko, Investasi Kripto Lebih Untung dari Emas?
Gaji Pas-pasan Harga Tanah Selangit, Menilik Alasan Gen Z Indonesia Pasrah Kontrak Rumah Seumur Hidup
Slow Living Bukan Tren Bule — Ini Alasan Gen Z Indonesia Mulai Memilih Hidup Lebih Pelan
Quiet Quitting Itu Udah Basi — Ini Namanya Conscious Working dan Gen Z Udah Duluan
Financial Freedom Bukan Soal Berhenti Ngopi: Gen Z Bisa Miskin Karena Harga Rumah, Bukan Starbucks
Kenapa Standar "Sukses Umur 25" Itu Racun Buat Kesehatan Mental dan Dompet Gen Z?
Gaji UMR Tapi Gak Miskin-Miskin Amat: Rahasia Gen Z yang Nolak Circle Hustle Culture