Ada anggapan yang cukup kuat di dunia pendidikan: lulusan kampus ternama punya jalan menuju kesuksesan yang lebih mulus. Nama universitas dianggap bisa menjadi tiket masuk perusahaan besar, membuka jaringan luas, bahkan mempercepat karier.
Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak bisa dianggap sebagai rumus pasti. Nama kampus memang punya nilai, tetapi kesuksesan setelah lulus ternyata jauh lebih rumit.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Agustus 2025 terdapat 904.440 penganggur dengan pendidikan terakhir universitas. Angka ini tentu tidak berarti lulusan universitas gagal atau kualitas kampus tidak penting.
Data tersebut justru mengingatkan bahwa ijazah saja belum otomatis berubah menjadi pekerjaan dan karier yang diinginkan.
Baca Juga: Generasi yang Dibesarkan Buat “Kuat”, Sekarang Membesarkan Anak Buat “Merasa”
Lulusan Kampus Ternama Memang Punya Keuntungan, Tapi Bukan Jaminan
Nama besar kampus bisa memberikan keuntungan tertentu. Perusahaan mungkin sudah mengenal reputasi sebuah universitas, alumni tersebar di berbagai industri, dan mahasiswa memiliki lebih banyak kesempatan bertemu perusahaan melalui kegiatan kampus.
Hal ini tercermin dalam pemeringkatan universitas. Dalam QS World University Rankings, reputasi di mata pemberi kerja menjadi salah satu indikator penting. Namun, reputasi pemberi kerja hanya merupakan bagian dari penilaian, bukan satu-satunya ukuran kualitas universitas. Pada metodologi QS saat ini, aspek Employability and Outcomes berbobot 20 persen, sementara riset dan penemuan mencapai 50 persen.
Artinya, bahkan lembaga pemeringkat pun tidak menganggap nama universitas sebagai satu-satunya penentu masa depan lulusan.
Baca Juga: Demo 27 Agustus di DPR Makin Ramai, GERAM Bawa 10 Tuntutan yang Bikin Senayan Disorot
Yang Dicari Perusahaan Bukan Sekadar Nama Almamater
Bayangkan dua fresh graduate melamar posisi yang sama.
Yang pertama berasal dari kampus terkenal, tetapi portofolionya kosong dan belum pernah mengerjakan proyek nyata. Yang kedua berasal dari kampus biasa, tetapi sudah memiliki pengalaman magang, beberapa proyek, kemampuan komunikasi yang baik, serta mampu menunjukkan hasil pekerjaannya.
Siapa yang lebih menarik bagi perekrut?
Baca Juga: Prabowo Tegaskan Korporasi Terlibat Karhutla Bisa Dicabut Izinnya: Saya Tidak Main-Main
Jawabannya tentu bergantung pada perusahaan dan posisi. Namun, ilustrasi tersebut menunjukkan satu hal: kompetensi harus mengikuti nama kampus.
Artikel Terkait
Prabowo Apresiasi TNI Siapkan Penerjun Khusus untuk Padamkan Karhutla di Wilayah Sulit Dijangkau
Prabowo Turun Langsung ke Lokasi Karhutla Kubu Raya, Pastikan Penanganan Berjalan Cepat
Desil DTSEN Berubah? Jangan Panik, BPS DIY Buka Jalan untuk Perbaikan Data
Cara Cek Desil Online DTSEN 2026 Pakai NIK, Tak Perlu Login! Ini Arti Desil 1–10
Prabowo Tegaskan Korporasi Terlibat Karhutla Bisa Dicabut Izinnya: Saya Tidak Main-Main
Demo 27 Agustus di DPR Makin Ramai, GERAM Bawa 10 Tuntutan yang Bikin Senayan Disorot
Generasi yang Dibesarkan Buat “Kuat”, Sekarang Membesarkan Anak Buat “Merasa”