Beruntung saya mengenal Buya Ahmad Syafii Maarif. Dan, saya senang dan bangga Buya mengenal saya. Begitu melihat, Buya langsung bisa menyebut nama saya secara lengkap. Sungguh menyenangkan dan bangga.
Memang, bukan hanya saya saja yang mengenalnya. Tetapi sangat banyak orang di negeri ini yang mengenalnya. Buya memang pantas dikenal. Bahkan, kenal lebih dekat dan sangat-sangat dekat dibanding saya. Saya hanya masuk dalam katagori, “sudah senang sekali kalau kiriman WA saya, dijawab.”
Buya dengan penuh kesengajaan dan sesadar-sadarnya, saya sebut sebagai “tokoh yang sangat terpuji.” Mungkin ada yang tidak sepaham, tidak apa-apa. Berbeda pendapat, soal yang biasa di dalam alam demokrasi, meskipun menurut para cerdik cendikia, demokrasi di negeri ini mulai merosot.
Baca Juga: Berminat Sekolah di Luar Negeri? Beasiswa ini Bisa Jadi Solusinya. Siswa SMA Silakan Mendaftar
Sangat wajar, kalau banyak orang dari pelbagai kalangan—politisi, usahawan, ulama, rakyat biasa (tua maupun muda; lelaki maupun perempuan; orang kota maupun orang desa), kaum terdidik maupun yang kurang terdidik, dan masih banyak lagi—mengenalnya, meskipun banyak di antara mereka belum pernah bertemu. Banyak kalangan yang pingin dan sudah sowan kepada Buya, terutama kalangan politisi. Suatu ketika, Buya cerita kepada saya tentang para politisi yang sowan ke rumahnya. “Saya bukan pemimpin politik, Trias,” katanya.
Karena itu, sangatlah bijaksana dan pantas kalau dulu banyak yang sowan Buya, bila ingin menjadi politisi yang berhati-nurani, yang berakal budi. Tentu Buya sangat berbeda, berbeda jauh sekali, bahkan sangat tidak dapat disamakan dengan “tokoh” (sesepuh) yang tidak perlu dan tidak pantas disowani, yang menurut Presiden Jokowi sering membuat keributan. “Jangan menggadaikan kewibawaan dengan sowan kepada pelanggar hukum,” kata Jokowi kepada para polisi, pada suatu ketika.
Baca Juga: AS Roma Juara Liga Konferensi Eropa, Jose Mourinho Catatkan Rekor
Bagi saya, Buya Syafii Maarif adalah mata-air keteladanan dalam banyak hal, baik kejujuran, kesederhanaan, sikap hidup, persaudaraan, tindakan nyata dan berbagai hal kebaikan lainnya.
Kata pepatah veritatis simplex oratio est, bahasa kebenaran itu sederhana. Begitulah Buya. Apa yang selalu dikatakan, tentang banyak hal, mencerminkan keadaan sesungguhnya yang ada di masyarakat.
Buya selalu mengatakan apa adanya sekalipun terhadap orang yang didukungnya, tanpa “topeng” kepalsuan dengan aksi sekadar sensasi, seperti yang banyak dilakukan oleh mereka yang menokohkan diri, yang suka menebarkan pesona demi gensi dan demi kuasa. Itulah contoh keutamaan Buya. Kata pepatah, virtus magis percepta per habitum quam doctrinam, keutamaan diperoleh lebih karena kebiasaan daripada ajaran… Keutamaan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Buya.
Di zaman kini, tidak mudah mencari tokoh seperti Buya. Tokoh masyarakat yang bersifat informal adalah orang-orang yang diakui oleh masyarakat karena dipandang pantas menjadi pemimpin yang disegani dan berperan besar dalam memimpin dan mengayomi masyarakat, sagala ucapan dan tindakannya pantas didengarkan serta ditiru. Dan, Buya adalah salah satunya dari sedikit tokoh yang ada di tengah masyarakat kita.
Ada ujar-ujaran dalam bahasa Jawa yang berbunyi, sejatiné pemimpin iku kang bisa ngayomi lan ngayemi (sesungguhnya pemimpin itu adalah orang yang bisa melindungi dan menenteramkan). Selama ini, Buya melakoni peran itu.
***
Artikel Terkait
Presiden Joko Widodo meresmikan Rumah Susun Untuk Para Santri Ponpes Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta
Momentum Milad ke-109: Presiden Puji Kontribusi Muhammadiyah dalam Penanganan Pandemi
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Duduki Rangking 6 PTS Terbaik Se-ASEAN
LELAKI TUA DAN SANDAL KARET Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
BAPAK KARDINAL DAN IMAM BESAR Oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
NGOBROL CAPRES oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
BULAN DI ATAS OMAH PETROEK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Berita Duka, Mantan Ketum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif Wafat di Yogyakarta