LELAKI TUA DAN SANDAL KARET Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Indria Purnama Hadi, TitikTemu.co
- Minggu, 1 Mei 2022 | 23:25 WIB
Kebon Raya, Bogor (commons.wikimedia.org)
Kebon Raya, Bogor (commons.wikimedia.org)

Tak lama kemudian, perempuan berhijab hitam itu bergerak hendak turun. Tetapi, sebelum turun ia menyisipkan uang Rp 50 ribu ke kantong baju lelaki tua itu. Lelaki tua itu, membuka matanya dan terlihat agak kaget. Lalu, mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Berbarengan dengan perempuan berhijab hitam itu, turun pula seorang perempuan muda, berusia sekitar tiga-puluh tahunan, yang sejak semula terlepas dari pengamatan saya. Ketika turun, ia bilang pada sopir sambil menyerahkan uang untuk ongkos lelaki tua penjual sandal itu.

Ketiga

Sandal karet ban
Sandal karet ban (Foto: Haruna)

Melihat semua itu, tulis Romo Haruna, dalam hati saya berkata, “Inilah indahnya berbagi. Inilah indahnya peduli pada sesama. Inilah wujud dari beriman, tidak sekadar beragama.”

Baca Juga: PERCAKAPAN DI RUANG UGD Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Benar yang dikatakan itu: berbagi dan peduli pada sesama memang indah. Inilah indahnya kehidupan. Orang-orang bijak mengatakan, apa pun yang kita miliki dapat menghasilkan buah, jika kita memberi kepada orang lain yang membutuhkan dengan kerendahan hati.

Dengan demikian, belas kasih, welas asih, kepedulian bukan hanya kegiatan amal. Tapi itu merupakan buah dari hati yang sungguh tergerak: tergerak di dalam lapisan hidup kita yang paling mendasar. Welas asih itu adalah pemberian hidup dan menggerakkan apa yang baik. Belas kasih itu membuat hubungan antara manusia menjadi dekat, setia, ramah dan penuh hormat.

Kata Komaruddin Hidayat (2017) inilah yang disebut ibadah sosial. Ibadah sosial ini banyak ragamnya, mulai dari yang paling sederhana misalnya memberi senyum, mendoakan, menolong, hingga yang tidak sederhana yakni bersedekah. Kesemuanya itu ibadah sosial. Inilah kesalehan sosial.

Baca Juga: JOGJA…JOGJA…JOGJAKARTA… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Kesalehan sosial, selain kesalehan spiritual adalah keutamaan hidup yang diwujudkan dalam sikap dan praktik nyata. Kata Mgr Robertus Rubiyatmoko (2021), kesalehan sosial dihayati dan diwujudkan dalam cara hidup, cara berpikir, cara merasa, cara bertindak, dan cara memperlakukan sesama.

Cara hidup seperti apa? Misalnya, peduli kepada sesama, solidaritas, dan semangat berbagi. Saat ini, yang paling sederhana misalnya adalah taat menaati protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuculi tangan, dan menjaga jarak.

Kesalehan sosial tidak bisa dilepaskan dari kesalehan ritual. Kesalehan sosial juga terungkap melalui sikap saling membantu dan saling mendoakan, memerteguh persaudaran dengan siapa saja tanpa sikap diskriminasi.

Baca Juga: TERAWAN DAN CUCI OTAK Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Tentu, dalam perspektif kebangsaan, kesalehan sosial merupakan penerapan dari penghayatan dan pengamalan Pancasila, terutama sila kemanusiaan yang adil dan beradab; persatauan Indonesia, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia .

Maka kata Komaruddin, kesalehan beragama itu banyak jalan dan beragam ekspresinya, antara lain lewat kesalehan sosial itu. Itulah sebabnya, kita tidak dibenarkan merasa diri paling takwa, paling benar, paling saleh, lalu gampang menyalahkan dan meremehkan keberagamaan orang lain.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X