POSTINGAN MAS MAR… Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior/Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Selasa, 15 Februari 2022 | 09:47 WIB
Ilustrasi (Istimewa)
Ilustrasi (Istimewa)

Saat ribut, langit berita makin ramai karena ditambah berbagai komentar dari para tokoh atau mereka yang merasa sudah menjadi tokoh, orang-orang partai, juga para cerdik-pandai.

Ilustrasi
Ilustrasi (Istimewa)

Benar jadinya pernyataan Presiden Jokowi pada Hari Pers Nasional yang baru lalu, bahwa banyak sumber informasi alternatif yang mengejar klik atau viewers, mengejar viral, yang menyesatkan bahkan adu domba, sehingga menimbulkan kebingungan dan bahkan perpecahan.

Baca Juga: Suara Para Ibu Rumah Tangga Dibalik Konflik Pembangunan Mega Proyek Bendungan Bener

Pernyataan Presiden itu, memang tidak berkait langsung pada kasus Wadas, tetapi itulah yang umumnya terjadi sekarang ini.

Akurasi fakta adalah problem utama media sosial (juga media arus utama)—sebagaimana banyak dibincangkan secara akademis.

Tetapi, media sosial (mungkin juga media arus utama?) justru kini menjadi kanal rasa frustasi sebagian orang.

Baca Juga: Sah! Indonesia Membeli 42 Pesawat Jet Rafale Dassault. Begini Profil dan Spesifikasi Jet Rafale

Juga menjadi sarana untuk melampiaskan sikap oposisi terhadap pemerintah dalam segala hal; menyampaikan pendapat yang “pokoknya” berbeda.

Memang, kemampuan untuk memelintir kebenaran merupakan fenomena yang melekat pada kemanusiaan kita, baik pribadi maupun masyarakat.

Tetapi, apakah fenomena semacam itu akan dibiarkan menjadi liar? Bila dibiarkan tak pelak lagi akan menimbulkan perpecahan sosial, menciptakan spiral kebencian.

Baca Juga: INFO LOKER : Lowongan Pekerjaan di BCA untuk Fresh Graduate, Semua Jurusan, Seluruh Indonesia

Yang kita butuhkan sekarang ini—terutama untuk menyelesaikan krisis Wadas, dan mungkin krisis-krisis sosial lainnya—adalah jurnalisme yang baik dan bebas yang melayani semua orang, terutama mereka yang tidak mampu menyampaikan aspirasinya: jurnalisme yang didedikasikan untuk mencari kebenaran dan yang membuka jalan menuju persekutuan dan perdamaian.

Media semestinya menjadi penangkal mulai dari misinformasi yang berbahaya hingga teori konspirasi liar. Tugas pers, media adalah menyampaikan berita dan analisis yang diverifikasi, ilmiah, dan berdasarkan fakta.

Saya akan mengakiri unek-unek ini—sekaligus melanjutkan postingan Mas Mar—dengan mengutip pendapat Paus Fransiskus (2018) tentang jurnalisme perdamaian, yang semestinya sekarang ini diwujudkan bersama-sama, oleh siapa saja yang secara pribadi, amatiran atau professional, menyebarkan informasi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X