Saat ribut, langit berita makin ramai karena ditambah berbagai komentar dari para tokoh atau mereka yang merasa sudah menjadi tokoh, orang-orang partai, juga para cerdik-pandai.
Benar jadinya pernyataan Presiden Jokowi pada Hari Pers Nasional yang baru lalu, bahwa banyak sumber informasi alternatif yang mengejar klik atau viewers, mengejar viral, yang menyesatkan bahkan adu domba, sehingga menimbulkan kebingungan dan bahkan perpecahan.
Baca Juga: Suara Para Ibu Rumah Tangga Dibalik Konflik Pembangunan Mega Proyek Bendungan Bener
Pernyataan Presiden itu, memang tidak berkait langsung pada kasus Wadas, tetapi itulah yang umumnya terjadi sekarang ini.
Akurasi fakta adalah problem utama media sosial (juga media arus utama)—sebagaimana banyak dibincangkan secara akademis.
Tetapi, media sosial (mungkin juga media arus utama?) justru kini menjadi kanal rasa frustasi sebagian orang.
Baca Juga: Sah! Indonesia Membeli 42 Pesawat Jet Rafale Dassault. Begini Profil dan Spesifikasi Jet Rafale
Juga menjadi sarana untuk melampiaskan sikap oposisi terhadap pemerintah dalam segala hal; menyampaikan pendapat yang “pokoknya” berbeda.
Memang, kemampuan untuk memelintir kebenaran merupakan fenomena yang melekat pada kemanusiaan kita, baik pribadi maupun masyarakat.
Tetapi, apakah fenomena semacam itu akan dibiarkan menjadi liar? Bila dibiarkan tak pelak lagi akan menimbulkan perpecahan sosial, menciptakan spiral kebencian.
Baca Juga: INFO LOKER : Lowongan Pekerjaan di BCA untuk Fresh Graduate, Semua Jurusan, Seluruh Indonesia
Yang kita butuhkan sekarang ini—terutama untuk menyelesaikan krisis Wadas, dan mungkin krisis-krisis sosial lainnya—adalah jurnalisme yang baik dan bebas yang melayani semua orang, terutama mereka yang tidak mampu menyampaikan aspirasinya: jurnalisme yang didedikasikan untuk mencari kebenaran dan yang membuka jalan menuju persekutuan dan perdamaian.
Media semestinya menjadi penangkal mulai dari misinformasi yang berbahaya hingga teori konspirasi liar. Tugas pers, media adalah menyampaikan berita dan analisis yang diverifikasi, ilmiah, dan berdasarkan fakta.
Saya akan mengakiri unek-unek ini—sekaligus melanjutkan postingan Mas Mar—dengan mengutip pendapat Paus Fransiskus (2018) tentang jurnalisme perdamaian, yang semestinya sekarang ini diwujudkan bersama-sama, oleh siapa saja yang secara pribadi, amatiran atau professional, menyebarkan informasi.
Artikel Terkait
Cara Membuka Tabungan Haji dan Umrah di Bank Umum Syariah
Awas! Penipuan Berkedok Arisan dan Investasi Online, Yuk Kenali Ciri-cirinya
Sirkuit Mandalika Akan Menjadi Destinasi Wisata Baru di Lombok. Ini Keistimewaannya
SINDIKASI Tolak Aturan JHT BPJS Ketenagakerjaan Cair Saat Usia Pekerja 56 Tahun
8 Jurus Jitu Lolos SNMPTN 2022 untuk Masuk PTN Impian. Disarankan Tidak Lintas Jurusan
Dukung UMKM Naik Kelas dan Go Global, Ini Bentuk Dukungan BNI
Ini Penjelasan Tradisi Menghidupkan Malam Nisfu Sya’ban