Suara Para Ibu Rumah Tangga Dibalik Konflik Pembangunan Mega Proyek Bendungan Bener

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Jumat, 11 Februari 2022 | 20:15 WIB
Para ibu rumah tangga desa Wadas yang tergabung dalam komunitas Wadon Wadas menolak lahan mereka digunakan lokasi penambangan batu andesit (projectmultatuli.org)
Para ibu rumah tangga desa Wadas yang tergabung dalam komunitas Wadon Wadas menolak lahan mereka digunakan lokasi penambangan batu andesit (projectmultatuli.org)

TITIKTEMU.CO, PURWOREJO - Memasuki hari ketiga pasca pecahnya konflik antara aparat dengan warga desa Wadas. Ketegangan warga Desa Wadas kian mereda, 64 warga sempat ditahan polisi yang sudah bebas, juga sudah beraktifitas sebagaimana kehidupan keseharian mereka.

Termasuk juga para perempuan yang tergabung dalam Wadon Wadas, komunitas para ibu rumah tangga yang tetap gigih memperjuangkan penolakan eksploitasi lingkungan hidup, penambangan batuan andesit di desanya.

Baca Juga: IPW: Tindakan Represif Aparat Polda Jateng di Wadas Memprihatinkan & Identik dengan Orba

Urip, salah satunya. Ibu rumah tangga berusia 41 tahun ini usai salat Subuh dan bersih-bersih rumahnya, bergegas memulai rutinitas kegiatan urusan dapurnya.

Saat yang bersamaan, Tukidi, 55 tahun, suaminya juga segera berangkat mengambil badek, air hasil sadapan pohon aren yang akan diolah menjadi gula Jawa atau gula merah.

Baca Juga: Mengapa Terjadi Konflik di Wadas? Ini Persoalan 11 Tahun, Sejak Dicanangkan Pembangunan Bendungan Bener

Empat pohon aren tempatnya menderas tuak, berlokasi tak jauh dari tempat tinggalnya di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Tetesan badek dari ujung tandan bunga jantan pohon aren yang dipotong, dia tampung dalam bumbung. Setelah sekitar 12 jam, badek harus diambil setiap pagi dan sore hari.

Badek bisa rusak dan tidak bisa diolah menjadi gula aren jika terlambat mengambilnya.

Baca Juga: Mengenang Prof. Yahya Muhaimin: “SAYA INI ORANG DESA. Oleh: Hamid Basyaib

“Walaupun hujan turun, ya tetap harus diambil,” kata Tukidi sebagaimana ditulis projectmultatuli.org. seperti dikutip dari https://karanganyarnews.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-1903699886/jeritan-wadon-wadas-dibalik-konflik-megaproyek-bendungan-bener

Setelah itu dia membawa pulang bumbung berisi badek.  Setelah semua terkumpul di dapur, Urip istri Tukidi yang mengambil kendali, menuangkannya ke sebuah panci besar berukuran sekitar 20 liter.

Setelah enam jam berlalu, Urip menurunkan panci dari tungku karena badek mulai mengental. Dengan menggunakan siwur, ia menuangkannya ke cetakan yang terbuat dari batok kelapa dibelah dua, proses ini disebutnya nitis.

Baca Juga: Timnas Indonesia Batal Mengikuti Piala AFF U23 di Kamboja Karena Badai Covid-19

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Karanganyarnews-Pikiran-Rakyat.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X