"ANTARA ANKARA DAN PENAJAM" Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 6 Februari 2022 | 15:47 WIB
Patung dan Monumen Mustafa Kemal Atarturk di Ulus Square, Ankara, Turki  (Foto: Trias Kuncahyono)
Patung dan Monumen Mustafa Kemal Atarturk di Ulus Square, Ankara, Turki (Foto: Trias Kuncahyono)

Baca Juga: Prilly Latuconsina Jadi Gadis Bipolar di Film Kukira Kau Rumah

Maka, Turki pun dibangun menjadi negara sekular, demokratik, dan moderen. Sekularisme, misalnya, diartikan bukan sekadar sebagai kebebasan tak beragama melainkan kebebasan menjalankan agama tanpa politisasi.

Lewat revolusi mereka perlu awal baru, babak baru, tempat baru tanpa tradisi lama. Dan, tempat itu adalah Ankara. Maka dilancarkan revolusi dengan ideologi revolusinya adalah Kemalisme.

Kemalisme adalah sebuah gerakan pencerahan. Lewat pencerahan ini, Mustafa Kemal mengajak generasi muda Turki memiliki gagasan bebas, kesadaran bebas, dan pengetahuan bebas (Sina Akşin, 1999).

Baca Juga: Piala Afrika: Kalahkan Kamerun, Mesir Maju ke Final Menghadapi Senegal. Mohamed Salah Vs Sadio Mane!

Kata Feroz Ahmad, Mustafa Kemal tidak ingin memerintah masyarakat Turki melalui tradisi, dan keyakinan sosial dan simbol-simbol, seperti yang nantinya dilakukan Franco di Spanyol dan Mussolini di Italia.

Dia lebih suka menciptakan ideologi dan simbol baru yang memungkinkan Turki maju pesat di abad kedua puluh. Karena tidak konservatif, ia tidak takut akan modernisme sekuler maupun demokrasi liberal, meskipun ia memandang demokrasi liberal sebagai rem bagi radikalismenya sendiri.

Singkat kata, keputusan memilih Ankara sebagai ibu kota Turki, menjadi pemutus segala ikatan dengan masa lalu (John Freely, 1996).

Baca Juga: Sinergi KAI-DAMRI Hadirkan Layanan First Mile & Last Mile untuk Penumpang Gunakan Bus

Mustafa Kemal ingin membawa Turki memasuki masa baru, zaman baru. Kesultanan Ottoman adalah masa lalu. Republik Turki adalah zaman baru.


III

Maka Turki pun memasuki Zaman Baru. Sebuah zaman yang sangat berbeda dengan zaman sebelumnya. Seperti diucapkan Publius Ovidius Naso (43 SM – 17 M) seorang penyair Roma, Tempora permutas nec tu mutaris in illis, waktu berubah dan kita pun berubah karenanya.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan, jika tidak berubah akan ketinggalan zaman; tidak sekadar ketingggalan kereta.

Baca Juga: Ilomata River Camp, Wisata Alam Yang Tersembunyi di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Gorontalo

Dan, ketika itu, Mustafa Kemal berkeyakinan bahwa Turki harus berubah. Ia melihat bahwa kekalahan Ottoman dalam PD I adalah momentum untuk melakukan perubahan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X