SINDROM TIKUS Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

photo author
Redaksi TITIKTEMU, TitikTemu.co
- Minggu, 14 November 2021 | 06:02 WIB
Lemming (Istimewa)
Lemming (Istimewa)

Baca Juga: Pengumuman BKN: Jadwal SKB CPNS 2021 Mulai 15 November!

Negativitas merupakan tujuan dan alasan pembentukan massa, entah massa yang melakukan destruksi seperti dalam kerusuhan dan kekerasan massa. Destruksi itu menyatukan karena melumatkan segala perbedaan yang merupakan pangkal segala tatanan. Dengan demikian, massa dihimpun melalui negativitas yang mengaburkan individualitas dan kebebasan.

Politik massa seperti itu yang kerap kali kita saksikan terjadi. Contoh paling nyata dan mudah adalah saat berlangsung Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 dan Pemilu 2019. Pada waktu itu, massa rakyat dibuat mengalami sindrom lemming dengan menggunakan politik identitas sebagai sarana untuk mempersatukan massa rakyat.

Ini dilakukan karena ada keyakinan bahwa cara termudah dan paling efektif menarik hati orang untuk memilih seorang kandidat adalah dengan cara membangkitkan ikatan emosional pemilih pada calon. Politik identitas mengacu pada mekanisme politik pengorganisasian identitas, baik identitas politik maupun identitas sosial sebagai sumberdaya dan sarana politik.


Ilustrasi
Ilustrasi (Istimewa)

III

Apa yang terjadi sekarang ini—menjadikan massa rakyat mengalami sindrom lemming—berbeda dengan praktik yang dilakukan di zaman Orde Baru yakni praktik politik massa mengambang.

Dulu di zaman Orde Baru, pemerintah dengan sengaja menciptakan kelompok yang hanya ikut apa kata “bapak”, apa kata pimpinan. Kelompok inilah yang disebut sebagai massa mengambang. Politik massa mengambang ini menjadi basis kekuatan rezim yang berkuasa.  

Politik massa mengambang dimanfaatkan untuk memotong relasi partai politik dengan rakyat, sehingga terjadi depolitisasi masyarakat. Mereka biasanya dimobilisasi untuk suatu kepentingan. Dengan kebijakan seperti itu, partai politik kehilangan akar rumputnya. Partai politik kehilangan basis politiknya yang paling bawah. Dan, pemerintah menuai keuntungan.

Baca Juga: Sejarah dan Quotes Hari Ayah Nasional, Simak Ya

Baik dalam politik sindrom lemming dan politik massa mengambang, massa sama-sama dibuat tidak memiliki imajinasi tentang masa depan dan hanya membebek apa kata pemimpinnya.

Bedanya, dalam politik sindrom lemming, massa digunakan sebagai kekuatan penekan bagi kepentingan politikus massa, elite politik dan agamawan massa menghadapi pemegang otoritas kekuasaan.

Massa yang terkena sindrom lemming tidak menyadari bahwa mereka dijerumuskan ke dalam jurang ketidakpastian karena terbius kata-kata para pemimpinnya tanpa mengecek kebenarannya, seperti tikus-tikus di Skotlandia yang terjun masuk laut. ***

Sumber: https://triaskun.id/2021/11/13/sindrom-tikus/

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Indria Purnama Hadi

Sumber: Trias Kuncahyono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB
X