Baca Juga: Pengumuman BKN: Jadwal SKB CPNS 2021 Mulai 15 November!
Negativitas merupakan tujuan dan alasan pembentukan massa, entah massa yang melakukan destruksi seperti dalam kerusuhan dan kekerasan massa. Destruksi itu menyatukan karena melumatkan segala perbedaan yang merupakan pangkal segala tatanan. Dengan demikian, massa dihimpun melalui negativitas yang mengaburkan individualitas dan kebebasan.
Politik massa seperti itu yang kerap kali kita saksikan terjadi. Contoh paling nyata dan mudah adalah saat berlangsung Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 dan Pemilu 2019. Pada waktu itu, massa rakyat dibuat mengalami sindrom lemming dengan menggunakan politik identitas sebagai sarana untuk mempersatukan massa rakyat.
Ini dilakukan karena ada keyakinan bahwa cara termudah dan paling efektif menarik hati orang untuk memilih seorang kandidat adalah dengan cara membangkitkan ikatan emosional pemilih pada calon. Politik identitas mengacu pada mekanisme politik pengorganisasian identitas, baik identitas politik maupun identitas sosial sebagai sumberdaya dan sarana politik.
III
Apa yang terjadi sekarang ini—menjadikan massa rakyat mengalami sindrom lemming—berbeda dengan praktik yang dilakukan di zaman Orde Baru yakni praktik politik massa mengambang.
Dulu di zaman Orde Baru, pemerintah dengan sengaja menciptakan kelompok yang hanya ikut apa kata “bapak”, apa kata pimpinan. Kelompok inilah yang disebut sebagai massa mengambang. Politik massa mengambang ini menjadi basis kekuatan rezim yang berkuasa.
Politik massa mengambang dimanfaatkan untuk memotong relasi partai politik dengan rakyat, sehingga terjadi depolitisasi masyarakat. Mereka biasanya dimobilisasi untuk suatu kepentingan. Dengan kebijakan seperti itu, partai politik kehilangan akar rumputnya. Partai politik kehilangan basis politiknya yang paling bawah. Dan, pemerintah menuai keuntungan.
Baca Juga: Sejarah dan Quotes Hari Ayah Nasional, Simak Ya
Baik dalam politik sindrom lemming dan politik massa mengambang, massa sama-sama dibuat tidak memiliki imajinasi tentang masa depan dan hanya membebek apa kata pemimpinnya.
Bedanya, dalam politik sindrom lemming, massa digunakan sebagai kekuatan penekan bagi kepentingan politikus massa, elite politik dan agamawan massa menghadapi pemegang otoritas kekuasaan.
Massa yang terkena sindrom lemming tidak menyadari bahwa mereka dijerumuskan ke dalam jurang ketidakpastian karena terbius kata-kata para pemimpinnya tanpa mengecek kebenarannya, seperti tikus-tikus di Skotlandia yang terjun masuk laut. ***
Sumber: https://triaskun.id/2021/11/13/sindrom-tikus/
Artikel Terkait
OMONGAN PAKDHE BENAR Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Hele Yo adalah Nikmat Sagu Berbalut Keindahan Alam Papua
Nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX Bisa dan Layak Dijadikan Nama Bandara Internasional Yogyakarta
HUJAN KASIH Oleh: Yudi Latif, Cendekiawan
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku