Maka mereka mencari tempat baru, habitat baru untuk tinggal dan hidup. Mereka melakukan perjalanan siang hari, mulai dari sedikit tetapi lama-lama menjadi banyak.
Gerombolan besar menyerbu area yang luas, dan beberapa lemming sering terpaksa berenang melewati penghalang air atau masuk ke pemukiman manusia. Banyak yang mati karena mereka tidak dapat menemukan habitat yang cocok, dan yang lainnya tenggelam ketika mereka didorong ke laut oleh momentum yang menekan dari massa di belakang mereka.
Baca Juga: Kuliner Khas Semarang Legendaris, dari Lumpia Gang Lombok Sampai Es Puter Cong Lik
II
Di negeri ini, memang, tidak ada lemming. Kalau tikus banyak, termasuk tikus-tikus got yang menggerogoti uang negara. Namun, sekarang ini, banyak orang ketularan sindrom lemming.
Yakni cenderung mengikuti perilaku dan tindakan massa tanpa menggunakan kebijaksanaan, tanpa dipikirkan terlebih dahulu akibatnya apa dari tindakan itu. Mereka hanya mengikuti apa kata pemimpinnya.
Mereka juga tidak memiliki imajinasi tentang massa depan. Karena itu, mereka tidak mampu membayangkan masyarakat seperti apa yang hendak dicapai, sama seperti lemming yang hanya ikut bergerak dengan yang lain dan akhirnya tercebur ke laut.
Baca Juga: Jajal Sirkuit Mandalika, Begini Gaya Presiden Jokowi dengan Motor Balapnya
Boleh dikata, massa itu hanya membebek, mengikuti saja apa yang diputuskan pemimpinnya—bisa pemimpin politik, bisa juga pemimpin agama.
Padahal, manusia itu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis. Tetapi, dalam banyak peristiwa, kemampuannya itu tidak digunakan.
Manusia memiliki potensi untuk menggunakan 100 persen pikirannya, otaknya tetapi banyak yang sudah puas hanya menggunakan 5 hingga 10 persen kemampuannya saja. Selebihnya rubuh-rubuh gedhang, tidak memiliki pendirian, tetapi ikut-ikutan saja tindakan orang lain; melaksanakan secara membabi-buta apa yang menjadi perintah pimpinannya.
Baca Juga: 15 Link Twibbon Ucapan Selamat Hari Ayah
Massa semacam itulah yang dimanfaatkan oleh para pemimpin entah itu politik ataupun agama untuk digerakkan guna mencapai kepentingannya. Para pemimpin massa, politikus massa dan juga agamawan massa tahu persis bagaimana memanfaatkan massa.
Dalam bahasannya Carl Schmitt (F Budi Hardiman, 2011), mereka tahu persis bagaimana memraktikkan pedagogi perang yang berbunyi: jangan melihat musuh sebagai musuh pribadi, melainkan musuh obyektif.
Sebab kata Georg Simmel (1858-1918) sosiolog dan filsuf dari Jerman, pada aksi-aksi massa, motif-motif para individu seringkali sedemikian berbeda-beda, sehingga penyatuan mereka akan semakin mungkin, bila isi penyatuan itu semakin negatif. Yakni, semakin destruktif.
Artikel Terkait
OMONGAN PAKDHE BENAR Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
Hele Yo adalah Nikmat Sagu Berbalut Keindahan Alam Papua
Nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX Bisa dan Layak Dijadikan Nama Bandara Internasional Yogyakarta
HUJAN KASIH Oleh: Yudi Latif, Cendekiawan
POLITIK WHATSAPP Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan senior, Penulis Buku