Seakan korupsi menjadi sebuah keharusan, conditio sine qua non, syarat mutlak, sesuatu yang tidak boleh tidak harus dilakukan, kalau jadi pejabat, kalau ada peluang atau kesempatan untuk korupsi.
Korupsi pun menjadi sebuah mode. Maka kredonya, kalau tidak ikut korupsi ketinggalan zaman.
Baca Juga: Oalah! Dukun Pembuat Ramuan Anti Covid-19 Ini Meninggal karena Terpapar Corona
Suhartono W Pranoto (2008) menulis banyak penjahat dewasa ini yang berkaliber berat, berdasi, berjas, dan berpantalon yang mahal sesuai dengan tuntutan mode, tampaknya patuh pada undang-undang, beramal, dan kalau perlu menjadi anggota panitia sosial yang terkenal; meluncur dalam Mercedes atau Volvo melakukan praktik-praktik kejahatan tersembunyi di balik tutur kata dan sopan santun yang gearticulateerd.
Mereka tidak berasal dari lapisan masyarakat yang miskin, yang kasar; mereka tidak berotot kekar seperti bajingan umum menurut gambaran Cesare Lombrosso (1835-1909) kriminolog Italia, tentang seorang penjahat. Menurut Lambrosso,bahwa seseorang yang “terlahir sebagai penjahat” dapat diidentifikasi dari penampilannya.
Padahal, yang terjadi di negeri ini, sekurang-kurangnya, wajah mereka kerapkali tampan, istri-istri mereka kerapkali cantik, tetapi mereka adalah “perampok-perampok salon”, sama jahatnya dengan seseorang perampok dan pembunuh, tetapi dengan mempergunakan cara dan metode yang lain.
Baca Juga: Malam Mingguan Ogah Keluar Rumah, ini yang Dilakukan Eks Bening Vonny Cornellya
Benar yang dikatakan oleh Pakde–begitu saya biasa memanggilnya, juga banyak orang. Pakde mengatakan, “Satu hal yang banyak mewarnai watak ke-Indonesiaan yang kurang terpuji: ‘Sulit ditebak, sulit dipercaya'”. Itulah koruptor. Sepertinya santun, saleh, dermawan, bersahabat, ramah, pekerja keras, bicara yang baik-baik, anti-korupsi, eh, ternyata kena OTT.
Coba, dipercaya jadi menteri, eh korupsi. Dipercaya jadi ketua partai, juga korupsi. Dipercaya rakyat menjadi bupati, juga korupsi. Dipercaya jadi gubernur, jatuh karena korupsi juga. Dan, dipercaya jadi wakil rakyat, ya sami mawon, korupsi.
Baca Juga: Beredar Kabar Tukul Arwana Meninggal Dunia, Kata Manajernya: Hoaks!
Terus bagaimana?
Mungkin, memang, sekarang sedang “musim gugur.” Gugurnya orang-orang yang pernah “seperti” terhormat. Gugur seperti daun-daun kuning, yang lepas dari tangkainya, jatuh melayang tak berdaya ke Bumi, lalu diinjak-injak orang lewat atau dikumpulkan tukang sampah….dan akhirnya dibakar. ……***
Sumber: https://triaskun.id/2021/09/26/omongan-pakde-benar/
Artikel Terkait
KPK Tetapkan 22 Terduga Maling Uang Rakyat Sebagai Tersangka, Termasuk Bupati Probolinggo
Ini Perjalanan Politik Dinasti Bupati Probolinggo Selama 18 Tahun
Apes ! Sudah Keluar Uang, 17 ASN di Probolinggo Ini Malah Ditahan KPK
Menteri Hukum dan Ham, Yasonna H.Laoly Usulkan Perampasan Aset Koruptor
Diduga Maling Alat Rapid Tes Untuk Dijual di Klinik Pribadinya, Seorang Kepala Dinas Kesehatan Ditangkap
Diduga Menyuap Rp 3,1 Miliar, Ini Kekayaan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin
Azis Syamsuddin dalam Pusaran Kasus Suap, Ini Profilnya