***
Tidak lama kami ngobrol. Karena Prof Komaruddin sudah dijemput putri dan cucunya. “Kita lanjutkan lain kali ya, ngobrolnya, sambil ngrencanakan bukunya itu,” katanya sebelum meninggalkan perpustakaan.
Sambil jalan, ia masih mengatakan, “Mereka itu–juga sejumlah tokoh lainnya penganjur, pembela, dan pelaksana toleransi, pluralisme, demokrasi, dan perdamaian–sudah layak dan sepantasnya kita teladani, ikuti, kita puji dengan setulus hati.”
“Tetapi,” lanjutnya, “puja-puji saja terhadap mereka–meskipun memang sudah pantas dan selayaknya–tidak cukup. Yang dibutuhkan sekarang adalah melanjutkan dan mewujud-nyatakan gagasan-gagasan besar tiga guru bangsa itu. Misalnya, soal pluralisme, toleransi, inklusivitas beragama.”
Baca Juga: COMMUNITY SHIELD: Manchester City Vs Liverpool, The Reds Kehilangan Dua Pemain Utama
Bukankah, toleransi misalnya, bukan sekadar saling menghormati, tenggang rasa, tetapi harus diwujudkan pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan diteruskan saling memiliki dalam kehidupan menjadi ukhuwah basyariyah, persaudaraan kemanusiaan.
Persaudaraan kemanusiaan itu artinya di mana seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena merupakan bagian dari umat manusia yang satu di pelbagai penjuru dunia; sama-sama merupakan makhluk ciptaan Tuhan.
Maka sikap-sikap seperti diskriminatif, tidak toleran, inklusif dalam hidup beragama, kebenciaan, penuh kecurigaan pada orang lain yang tak seagama dan tak sepaham, bertentangan dengan hakikat dasar manusia tersebut. “Wis, ya ...kita ketemu lagi.” ***
Sumber: https://triaskredensialnews.com/kredensial/ngobrol-dengan-komaruddin-hidayat/