opini

'BADUT-BADUT TAK LUCU' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Kamis, 14 Juli 2022 | 17:41 WIB
Ilustrasi (Istimewa)

***

 

Topeng-topeng di Sewu Rai, Wonogiri. Ilustrasi (Dwi Soewanto)

Itulah wong cilik. Wong cilik yang miskin. Yang kehadirannya tidak menggenapi, dan ketidak-hadirannya pun tidak mengurangi. Keberadaannya tidak terpandang atau tidak diperhitungkan sedikit juga dalam masyarakat.

Baca Juga: Museum Sewu Rai, Wisata Spiritual Seribu Wajah Bernuansa Jepang  

Itu sekarang. Tetapi sebentar lagi, kehadirannya akan sangat berarti. Ibarat kata, bila seratus kurang satu maka tidak akan genap seratus. Tak peduli yang nggenapi jumlah seratus itu miskin atau kaya. Pada saat itu, yang miskin dan yang kaya, sama: memiliki hak suara yang sama, yakni satu.

Begitu juga rakyat kecil yang lain seperti Ramadhan, yang baru punya harga ketika pemilu entah itu tingkat daerah atau nasional, dilaksanakan. Maka ketika “musim badut-badut politik” datang, mereka yang sebelumnya tutup mata terhadap wong cilik dan juga wong cilik yang miskin, berlomba-lomba menaruh perhatian dan peduli pada mereka.

Tetapi, pada saat yang bersamaan, mereka menebar pesona, mencari simpati dan bahkan belas kasihan dari wong-wong cilik, minta dukungan, membutuhkan suaranya. Ketika “musim badut-badut politik” usai, usailah pula perhatian mereka pada wong-wong cilik. Ibarat kata, musim durian berakhir berganti musim mangga atau rambutan, atau buah yang lain. Begitulah siklusnya.

Baca Juga: OPINI: TOPENG-TOPENG Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Mereka memang tidak memakai topeng beragam wajah yang lucu-lucu seperti mickey mouse, joker, wajah harimau, hidung merah, kelinci, kera, punakawan dan sebagainya. Tapi, perbuatan, polah-tingkah, perilaku, dan omongan mereka lucu-lucu.

Kata Seno Gumira Ajidarma (2018), badut politik adalah kekonyolan karena yang membuat orang tertawa adalah kebodohannya. Bukan kebodohan manusia lugu, melainkan kebodohan manusia yang berusaha tampak pintar tapi gagal. Maka tawa yang lahir dari perilaku badut politik ini bukanlah tawa kebahagiaan yang wajib disyukuri.

***

Baca Juga: Menko Polhukam Sebut Banyak Kejanggalan dalam Kasus Penembakan di Rumah Kadiv Propam
Politik adalah kegiatan yang bertujuan untuk kebaikan dan kebenaran dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Politik tidak bertujuan untuk mencapai kepentingan sendiri atau kelompok saja, melainkan dan terutama kepentingan bersama sebagai bangsa. Maka itu, perlu etika dan moral dalam berpolitik agar makna dan tujuan politik tersebut tercapai.

Dengan kata lain, politik dengan dengan sejumlah prinsipnya seperti hormat terhadap martabat manusia, solidaritas, keadilan, kebebasan, kejujuran, dan tanggung jawab, tidak bisa dipisahkan dari moralitas. Maka mereka yang terjun dalam dunia politik karena tanggung jawab moral harus memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan mengoreksi yang salah. Bahasa kerennya, berani meneriakkan suara kenabian.

Baca Juga: Bertemu Ulama di Rumah Gus Mus, Kapolda: Ngobrol Saja, Tak Ada Kaitan dengan Kasus Pelecehan Santri di Jombang

Apakah “badut-badut politik” memahami tugas suci politik itu? Sebab, dengan semua itu, politik mengharuskan siapa pun yang terlibat di dalamnya untuk serius, pintar, dan cerdik. Jika tidak, panggung politik hanya akan menjadi panggung komedi. Komedi kehidupan yang hanya memancing orang tertawa, atau mungkin malah cemoohan. Sebab, lebih lucu ketimbang kostum mickey mouse yang dipakai Ilyas Ramadhan dan badut jalanan lainnya. ***

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB