Ketika obrolan kami menyinggung soal politik, ingatan langsung kembali ke masa ketika kami masih satu kantor. Dalam setiap rapat, setiap obrolan ringan isu politik di negeri ini menjadi menu utamanya.
Dulu, kami selalu bicara tentang partai politik. Kami ngobrol soal para elite politik. Kami berdiskusi soal keputusan-keputusan politik. Kami juga ngomongin soal money politic dan sebagainya. Bagi kami, yang kerja di koran, politics matters, meminjam istilahnya Andrew Gamble (2019).
Sebab, hidup kita tidak bisa lepas dari politik. Kata Herry-Priyono (2022), politik (dari polis) salah satu lapis artinya adalah sebutan bagi realitas kumpulan orang yang hidup bersama secara khas (antara lain dengan pemerintahan, dengan hukum dan aturan-aturan, ada yang mengelola, dan ada yang bertanggung jawab).
Baca Juga: Tersangka Pelaku Penembakan Shinzo Abe Mantan Anggota Pertahanan Diri Maritim Jepang
Maka itu, kita tidak bisa lepas dari politik. Apalagi, kita hidup di tengah masyarakat, anggota masyarakat. Manusia adalah makhluk yang hidup bersama orang lain. Itulah kodrat manusia. Manusia memerlukan manusia lain untuk kelangsungan hidupnya. Di situlah ada politik. Sejak lahir, kita adalah warga organisasi politik yang disebut negara.
Dalam politik itu ada tiga sikap yakni mendukung, menentang dan membiarkan atau tidak ikut-ikutan. Namun, ketiga sikap yang berbeda ini harus tetap tunduk pada pemenang. Itulah demokrasi. Dan, itulah yang terjadi di negeri ini.
Mereka yang kalah pada Pemilu 2019, bersatu dengan pemenang. Meski ada yang malu-malu kucing; ada pula yang “berlagak” bermain di luar, sebagai semacam oposisi; ada yang menentang dan bersikap sinis terhadap apa pun yang dilakukan pemerintah; terakhir mengomentari secara sinis terhadap misi damai Jokowi ke Ukraina dan Rusia.
Baca Juga: 'SUATU HARI DI UKRAINA' Oleh: Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku
***
Petang itu, kami memang hanya ngobrol ringan. Yah, kadang-kadang nyinggung sana nyinggung sini, nyebut ini dan itu, juga ngobrol soal media karena kami wartawan.
Berbagai peristiwa yang kami obrolkan memberikan gambaran bahwa manusia itu adalah makhluk yang keras kepala. Apalagi, kalau sudah menyangkut masalah politik dan kekuasaan.
Tidak jarang, bahkan kerap kali terjadi atau malah selalu terjadi, kekuasaan itu membutakan mata hati mereka yang menguasainya dan yang memburunya. Kata Machiavelli (begitu selalu dikatakan orang), segala cara dilakukan untuk meraih dan memertahankan kekuasaan.
Baca Juga: Belum Dapat Sekolah? Ini Daftar 50 SMA Unggulan Seluruh Indonesia. Bisa Jadi Acuan Pilihan
Satu hal yang kerap terjadi, manusia tidak pernah mau belajar dari sejarah. Merasa diri hebat. Populer. Kondang. Punya uang dan pengaruh serta pengikut. Akibatnya, terjungkal dan gagal mencapai cita-citanya. Itu terjadi tidak hanya sekali, tetapi berulang-ulang kali terjadi, sama dan serupa seperti sebelumnya.
Begitulah, bukan sejarah sendiri yang siklis, tetapi kekuasaan dan politiklah yang menjadikan sejarah ini siklis. Orang Jawa bilang cakra manggilingan. Kata cakra (bahasa Sanskerta) berarti cakram atau roda. Sedangkan manggilingan (bahasa Jawa, yang kata dasarnya giling) yang artinya berputar atau menggerus. Istilah cakra manggilingan diartikan sebagai kehidupan ibarat roda berputar, kadang di atas kadang di bawah, selalu berubah.