Baca Juga: Dunia Kerja: Relations Officer, Posisi Penting di Perusahaan Bank. Ini Detil Tugas dan Kewajibannya
Ukraina-Rusia
Jelaslah kiranya, kunjungan Jokowi didampingi Ibu Iriana ke Ukraina dan Rusia, mempertegas komitmen kuat Indonesia mendukung perdamaian; tidak hanya perdamaian Ukraina, tetapi juga perdamaian dunia. Kunjungan itu juga menunjukkan betapa tebalnya bela rasa, compassion, rasa kepedulian, welas asih, dan kemanusiaan bangsa Indonesia terhadap bangsa lain.
Tetapi, perlu dipahami bahwa perdamaian, memang, tidak bisa begitu saja terwujud. Perdamaian adalah suatu proses. Membangun perdamaian abadi membutuhkan waktu. Jalan menuju perdamaian berliku-liku, naik-turun, panjang, tidak terduga, dan tidak semuanya lurus.
Proses perdamaian ini yang oleh Timothy D. Sisk (2001), digambarkan sebagai “langkah-demi-langkah, langkah timbal balik untuk membangun kepercayaan, menyelesaikan masalah-masalah berat seperti perlucutan senjata, dan dengan hati-hati menentukan masa depan melalui desain lembaga politik baru.”
Dalam istilah lain, kata Timothy proses perdamaian adalah tarian langkah-langkah yang rumit–dikoreografikan oleh mediator pihak ketiga–di antara pihak-pihak yang berkonflik yang membantu untuk secara bertahap bertukar perang dengan perdamaian.
Maka itu beranggapan bahwa setelah Jokowi bertemu dengan Zelensky dan Putin, segera perang berakhir dan disepakati perdamaian adalah terlalu berlebihan. Apa yang dilakukan Presiden Jokowi adalah langkah awal, langkah pembuka untuk ke langkah-langkah selanjutnya.
Baca Juga: Elena Rybakina Perkasa ke Semifinal Wimbledon 2022 dengan Cetak 15 Aces
Jokowi tidak hanya berani mengawali langkah, tetapi bahkan melangkah dengan sepenuh hati, tanpa keraguan sedikitpun, apapun hasilnya. Karena ia, melaksanakan amanat Konstitusi.***
Sumber: https:https://triaskredensialnews.com/artikelinternasional/dari-bung-karno-hingga-jokowi/