Di Moskwa, Jokowi bertemu Putin. Mereka duduk berhadapan-hadapan dibatasi meja persegi empat kecil warna putih. Meja kecil warna putih setinggi lutut itu kira-kira panjang 60 Cm dan lebar 40 Cm. Nuansa warna putih mendominasi tempat mereka bertemu, di Kremlin.
Jokowi tidak lagi mengenakan “pakaian kebesarannya”, baju putih lengan panjang dengan lengan digulung, sepatu sneakers hitam, celana panjang hitam. Tapi stelan jas resmi, sama seperti tuan rumah, Putin.
Baca Juga: Puasa Dzulhijjah Sehari Layaknya Puasa Setahun, Ini Jadwal dan Niatnya
Meski demikian, pertemuan kemarin istimewa. Karena mejanya kecil, maka jarak duduk mereka pun dekat. Pesannya jelas. Ada keakrapan di antara mereka. Terlihat akrab. Senyum ada di wajah mereka.
Ini seperti mengulang keakrapan Bung Karno dan pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev. Tahun 1956, Bung Karno mengunjungi Moskwa. Lalu 18 Februari 1960, gantian Khrushchev mengunjungi Indonesia.
Baca Juga: Resep Herbal Agar Paru-paru Sehat ala dr Zaidul Akbar, Khasiatnya Luar Biasa
Pertemuan Jokowi dan Putin berbeda sekali dengan saat Putin menerima Presiden Perancis Emmanuel Macron. Duduk mereka dibatasi meja oval panjang. Masing-masing duduk di ujung meja. Hal yang sama juga terlihat saat Putin menerima Kanselir Jerman Olaf Scholz.
Foto berjauhan di ujung meja memicu komentar satir di media sosial dan spekulasi, termasuk oleh para diplomat, bahwa Putin mungkin menggunakannya untuk mengirim pesan. Pesan lewat meja oval panjang.
Baca Juga: Yes! Dream Theater Konser di Solo 10 Agustus2022, Ini Harga Tiket dan Cara Belinya
Tetapi, kata Reuters waktu itu, karena pandemi Covid 19 belum reda, Macron diberi pilihan: menerima tes PCR oleh otoritas Rusia dan diizinkan untuk mendekati Putin, atau menolak dan harus mematuhi aturan sosial yang lebih ketat: menjauhkan dan tak ada jabat tangan juga.
Paris menolak syarat itu. Karena mereka tidak mau Moskwa mendapatkan DNA Presiden Perancis itu, lewat PCR. Ketika Putin bertemu Kanselir Jerman pada bulan Februari pun demikian, duduknya berjauhan.
Ada alasan keamanan. Ada alasan kecurigaan. Tapi, alasan kesehatan menjadi alasan resmi utama. Mana yang benar? Kata Cyrille Bret, ahli politik dari Higher Institute for Political Studies, Paris, antara Perancis-Rusia, “ada sejarah benci dan cinta.”***
Sumber: https://triaskredensialnews.com/artikelinternasional/diplomasi-meja/