Ada juga kelompok, karena didorong oleh syahwat kekuasaan yang menderu-deru, lalu menyodorkan, “menjagokan” orang yang sekadar popular namun tidak memiliki rekam jejak dan kualitas yang dibutuhkan bangsa dan negara ini.
Mereka hanya menekankan aspek popularitas bukan kualitas. Hal itu tentu akan berpengaruh pada nasib negara dan bangsa di masa depan. Sebab, popularitas saja tidak akan menjadi modal yang cukup untuk membawa dan mengubah bangsa dan negara ini ke situasi dan kondisi yang lebih baik, ke zaman kemajuan, bila tanpa kualitas diri, bila miskin politik (dalam arti yang sesungguhnya) yang dibutuhkan bangsa dan negara ini.
Baca Juga: Ini Dia Calon Pimpinan BAZNAS Kota Semarang Periode 2022-2027
Bagi mereka itu, istilah politik seakan-akan hanya berarti kekuasaan, hanya ada dalam kamus kekuasaan dan tidak berarti kesejahteraan bagi masyarakat banyak. Karena itu mereka menggenjot aspek popularitas untuk menaikkan citra.
Tetapi, sebenarnya bila hanya mengomunikasikan politik (di sini politik pencitraan) namun tidak disertai aksi politik yang konkret, nyata (sekali lagi, politik dalam arti yang adiluhung) maka sama saja menipu orang lain, mangsa “buruan” mereka. Karena yang mereka lakukan hanyalah menarik simpati untuk mendapat dukungan. Itu saja!
Ketiga
“Musim berburu” belum tiba, memang. Tetapi persiapan untuk perburuan sudah dilakukan. Bahkan sudah ada yang memulai perburuan sekalipun secara tidak resmi, sekalipun secara malu-malu kucing yang akhirnya memang memalukan bagi yang masih punya rasa malu, bagi yang kulitnya tipis.
Baca Juga: Berminat Sekolah di Luar Negeri? Beasiswa ini Bisa Jadi Solusinya. Siswa SMA Silakan Mendaftar
Karena itu diingatkan oleh Jalāl ad-Dīn Mohammad Rūmī (1207-1273), seorang sufi Persia, “Jangan pergi ke arah yang gelap, karena matahari masih ada.” Sekarang ini, semua terang-benderang. Dan, rakyat pun sudah pintar, mana pemburu kuasa dan mana pemburu hikmah, mana kebenaran…..mana penumpang kekuasaan yang akan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan dirinya sendiri serta kelompoknya dan mana yang akan menggunakan kekuasaan untuk kesejahteraan bersama.
Sumber: https://triaskredensialnews.com/kredensial/kisah-pemburu/