opini

TONGSENG LIDAH oleh Trias Kuncahyono, Wartawan Senior, Penulis Buku

Rabu, 23 Februari 2022 | 15:52 WIB
Warung sate dan olahan kambing. Ilustrasi (Istimewa)

Ada lagi, orang menduduki posisi terpandang, terhormat tetapi tidak mampu “menjaga lisannya.” Kalau ajining diri saka lathi, maka orang seperti itu ora ana ajine, nggak pantas dihormati, walau menduduki posisi terhormat.


Lidah-lidah (Istimewa)

Lidah memang dahsyat. Kata Bunda Teresa dari Kalkuta, kekerasan lidah sangat nyata, lebih tajam dari pisau manapun. Lidah dapat ditajamkan seperti pedang. Lidah dapat dikatakan baik atau jahat; terpelajar atau pintar.

Maka itu ada yang mengatakan bahwa kejahatan dapat disembunyikan di bawah lidah, tetapi kebenaran terpancar di mata. Tetapi, lidah yang tenang dapat menjadi pohon kehidupan.

Baca Juga: FIA Mencopot Michael Masi Sebagai Direktur Balapan F1. Akibat Kisruh Lewis Hamilton- Verstappen di Abu Dhabi?

Memang ada kekuatan dahsyat yang dimiliki lidah. Maka perlu untuk sangat berhati-hati dalam menggunakan lidah. Sebab, kegagalan mengekang lidah dapat menyebabkan ibadat seseorang menjadi sia-sia. Karena yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang tidak menjejukkan hati.

Lidah yang tidak dikekang dapat dipengaruhi oleh kekuatan yang bersifat merusak dan dapat mengakibatkan begitu banyak ketidakadilbenaran atau begitu luas jangkauannya sehingga bisa mencemari seluruh kehidupan orang itu.

Ada tertulis, semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia.

Baca Juga: Ukraina Krisis, UEFA Dapat Memindahkan Final Liga Champions dari St Petersburg

Tetapi, tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh dengan racun yang mematikan. Karena itu, kita juga sering mendengar peribahasa “mulut satu lidah bertopang”, yang berarti perkataan berbeda dengan isi hati.

“Wah, maaf Pakde, saya kok jadi ngelantur bicara macam-macam,” kata saya

.“Nggak papa, Pakde. Kita ngobrol, mengumbar lidah untuk ngomong banyak hal. Dan, kita kan tidak ngomongin keburukan orang lain,” katanya.

Baca Juga: Juara Bertahan Chelsea Menangi Laga Leg Pertama 16 Besar Liga Champions

“Ayo, jadi cari sate Pak Min? Saya tak makan tongseng lidah saja, biar saya makin fasih berbicara, kan lidah tak bertulang. Memang lidah tak bertulang, tak berbekas kata-kata, Tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati……”

“Wah, Bob Tutupoly, ya Pakde,” kata Pakde Frans. Kami tertawa, lalu mendendangkan lagu itu.***

 

Halaman:

Tags

Terkini

DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PUN DIANGKAT MENJADI MENTERI

Kamis, 18 September 2025 | 07:57 WIB

TERIMA KASIH SRI MULYANI DAN SELAMAT DATANG PURBAYA

Selasa, 9 September 2025 | 05:51 WIB

KETIKA PUISI MENJADI SAKSI ZAMAN Oleh: DENNY JA

Senin, 26 Mei 2025 | 18:04 WIB