Demokrasi, kata orang politik. Berbeda untuk bersatu; bersepakat untuk tidak sepakat. Kalau berbeda saja sudah tidak boleh, maka matilah itu demokrasi. Kata Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt (2018), norma fundamental demokrasi adalah saling toleransi dan sikap menahan diri secara kelembagaan.
Kata dua orang pinter itu, kala norma saling toleransi lemah, demokrasi sukar dipelihara. Bila kita memandang pesaing sebagai musuh, sebagai ancaman berbahaya, maka kita jadi takut mereka menang.
Baca Juga: 7 Kuliner Khas Solo yang Best of The Best, Jangan Lewatkan!
Boleh jadi lantas kita memutuskan untuk menggunakan segala cara untuk mengalahkan mereka—sehingga membenarkan cara-cara otoriter
Pakde Frans sempat bertanya, “Apakah karena lidah tak bertulang sehingga Pakde suka tongseng lidah?” Memang lidah tak bertulang
Lidah tak bertulang itu bunyi peribahasa, yang menurut guru bahasa Indonesia saya dulu waktu SMP berarti manusia sangat mudah untuk berbohong/mengumbar janji atau berbicara seseorang itu tidak bisa dipegang. Semacam janji politik gitu atau janji seorang pemuda pada gadis pujaannya.
Baca Juga: SNMPTN 2022: IPB Sediakan 1.760 kursi mulai Prodi Pertanian hingga Ekonomi dan Bisnis
Kata orang, meskipun lidah tak bertulang, dapat mematahkan hati. Bahkan Robert Greene, penulis buku dari AS, mengatakan, lidah manusia adalah binatang yang hanya sedikit dikuasai.
Karena itu, ada nasihat “jagalah lisan”-mu. Orang-orang tua (Jawa) mengatakan, ajining diri saka lathi, seseorang dapat dihargai dan dihormati berdasarkan ucapannya atau perkataannya.
Nasihat ini tidak hanya berlaku bagi orang Jawa, tetapi universal, umum, berlaku untuk semua orang.
Baca Juga: LTMPT : SNMPTN 2022 Ditutup 28 Februari, Lakukan 7 Langkah Pendaftaran Segera
Sekarang ini, banyak yang tak mampu “menjaga lisannya.” Ada orang yang dengan mudah mengucapkan ujaran-ujaran kebencian. Ada lagi yang hobi membiarkan lidahnya membuat gaduh dengan melemparkan pernyataan-pernyataan yang provokatif juga kontroversial.
Yang lain lagi memilih menekuni profesi sebagai kritikus. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan seleranya dikritik habis-habisan, dikatakan nggak mutu, disebut sebagai produk orang bodoh dan dungu.
Juga kalau tidak sesuai dengan yang “menghidupi” pasti akan dikritik nggak karu-karuan, dengan mengatakan atas nama kebebasan mengemukakan pendapat.
snmBaca Juga: SNMPTN: Cara Mengetahui Tingkat Persaingan Prodi di PTN Idaman, Cama Harus Tahu, Agar Bisa Lolos!