Baca Juga: Perempuan Aceh Dicambuk 100 Kali Karena Zina, Si Pria Hanya Dicambuk 15 Kali. Kok Bisa?
Misalnya, terwujud dalam diri mereka yang banyak ngomong, ngomyang nggak jelas hasilnya, merasa paling pinter sendiri, yang lain bodoh, tolol, dan dungu; mereka yang suka menuding orang lain khafir; mereka yang suka menyebarkan berita bohong, fitnah, ujaran kebencian, sikap tidak toleran; yang mengumbar sikap-sikap ekstremisme dan fanatisme.
Mereka yang korup, mementingkan kantongnya sendiri dibandingkan kesejahteraan rakyat, juga masuk dalam kategori orang kurang sajen.
Sebab, kini sajen tidak lagi berujud nasi tumpeng, bubur merah-putih, bunga mawar, kenanga, kantil, dan pisang kepok tetapi dalam bentuk uang pelicin, uang suap, uang tutup mulut, gratifikasi, upeti, pemerasan, kontrak proyek, penggelapan, sogokan, dan lain sejenisnya.
Baca Juga: Jelang Tahun Baru Imlek, Kelenteng Sam Poo Kong Jadi Pilihan Tepat Liburan Keluarga
Maka, melihat para pembuat hiruk-pikuk, kebisingan, kegaduhan, celotehan, dan para koruptor di negeri ini, orang yang masih waras hanya akan mengatakan, “Dasar kurang sajen!”
Sumber: https://triaskun.id/2022/01/16/kurang-sajen/