Popularitas relatif jaringan teroris tertentu hanya dapat dijelaskan dalam kerangka masyarakat radikal di mana kekerasan ekstremis menemukan iklim legitimasi dan dukungan implisit.
Masyarakat radikal seperti itu diresapi oleh rasa frustrasi kolektif yang mendalam, penghinaan, dan deprivasi relatif terhadap harapan. Habitat sosial yang radikal ini mudah dieksploitasi oleh teroris.
III - Perlu dicatat, fenomena radikalisme, fenomena kekerasan sudah sangat lama terjadi. Kekerasan sering dijadikan alat ampuh untuk memenuhi keinginan beberapa individu atau kelompok terhadap masalah yang begitu kompleks. Dan ternyata kekerasan juga menghinggapi agama-agama.
Jika kita menyimak fenomena di lapangan atau setidaknya lewat media sosial, memang ada tren intoleransi dan radikalisme di Indonesia cenderung meningkat dari waktu ke waktu.
Berbagai survei dan riset berkait dengan hal tersebut banyak dilakukan. Misalnya, Riset yang dilakukan oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa di Universitas Pendidikan (UPI) Bandung, belum lama ini.
Riset dilakukan terhadap para siswa di 33 sekolah setingkat SMA, termasuk SMK dan Madrasah Aliyah (MA) di Bandung. Hasilnya, 44 dari 100 siswa SMA sederajat terindikasi berpaham radikal.
Sebanyak 35 persen dari temuan itu, mengungkapkan indikasi radikal secara agama. Pembagiannya, yang terbesar, yaitu 16 persen berkarakteristik radikal ISIS dan Al-Qaeda, 15 persen berkarakteristik dengan gerakan garis keras secara fisik.
Mengapa semua itu terjadi? Kecenderungan itu dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama kontestasi politik, ceramah atau pidato bermuatan ujaran kebencian, serta unggahan bermuatan ujaran kebencian di media sosial (medsos). Mungkin, jumlahnya kecil. Tetapi, mereka yang mengusung radikalisme dan ekstremisme aktif menyusup ke mana-mana.
Mereka terus berkembang, dikembangkan, dan berusaha mengembangkan diri dengan berbagai cara baik secara terang-terangan maupun terselubung. Itulah sebabnya Ketua Umum PB NU KH Said Aqid Siroj mengatakan, radikalisme dan teroris sebagai bahaya laten.
Dan, itulah kekuatan kejahatan; kekuatan anti-kemanusiaan, anti-peradaban. Bila sekarang ini, kekuatan kebaikan tidak mampu mengalahkan kekuatan kejahatan, ini merupakan kegagalan kemanusaian di zaman kiwari. Dan, inilah kiranya tragedi kita bersama. ***
Sumber: https://triaskun.id/2021/09/29/bahaya-laten/